Di tengah pagebluk yang belum sepenuhnya selesai, apa arti sebuah buku elektronik yang bicara soal pandemi? Siapa yang sudi membacanya di tengah kemuakan, kejenuhan, dan kecurigaan adanya sebuah teori konspirasi terhadap apapun yang berbau Covid-19?
Menyambut hari jadi ke-16, Beritajatim.com menerbitkan sebuah bunga rampai artikel-artikel dalam rubrik Sorotan yang khusus berbicara mengenai pandemi dari aspek ekonomi, kesehatan, sosial budaya, dan politik. Rubrik Sorotan adalah sebuah rubrik yang pada awalnya ditujukan sebagai ruang editorial bagi redaksi, Namun pada perkembangannya, rubrik ini tak lagi bicara atas nama redaksi, namun memuat artikel-artikel esai maupun reportase yang mendalam dan reflektif terntang banyak hal.
Sepanjang 2020-2021, tentu saja, pandemi Covid-19 mendominasi artikel yang muncul di sana. Tak hanya dari kalangan redaksi sendiri, namun juga dari penulis-penulis luar yang terdiri dari para ahli. Semuanya memberikan perspektif yang berbeda mengenai pandemi ini dan bagaimana menghadapinya.
Virus adalah musuh abadi manusia yang berdampingan sepanjang hayat. Menerbitkan kembali artikel-artikel yang masih bisa dibaca gratis di laman situs Beritajatim.com dalam sebuah buku elektronik yang juga bisa diakses gratis adalah sebuah ikhtiar kecil untuk melawan lupa. Literasi dibutuhkan untuk mengenali musuh abadi itu. Tak ada yang tahu bagaimana virus bisa bersalin rupa ke dalam banyak varian dan jenis, dan mungkin ketidaktahuan itu yang membuat kita panik selama ini.
Celakanya, setiap detik, internet dibanjiri jutaan informasi dengan kualitas yang beragam. Sebagian diproduksi dengan itikad baik, sisanya kita hanya bisa mengatakan ‘wallahu a’lam bish-shawab’. Hanya Tuhan yang lebih tahu isi hati mereka. Buku ini adalah upaya untuk membuat bacaan mengenai pandemi lebih sistematis dan tak acak yang berniat mengedukasi publik.
Buku elektronik ini adalah pengejawantahan tanggung jawab jurnalisme Beritajatim.com, untuk mengingatkan bahwa pandemi belum sepenuhnya berakhir. Ia bisa datang lagi pada masa mendatang dengan kejutan yang seringkali tak menyenangkan. Dengan kata lain, sebuah buku tak bisa diremehkan, karena ia selalu membawa pembacaan tentang sebuah zaman.
Buku 1984 karya George Orwell yang terbit pada 1949 menjadi abadi karena menceritakan ancaman yang selalu muncul pada setiap era politik: totalitarianisme. Kediktatoran. Umberto Eco, pakar semiotika berkebangsaan Italia, menyebut buku itu mengekspresikan ketakutan-ketakutan Orwell.
Dan buku itu, menurut Eco, menjadi sebuah alarm peringatan, teguran, dan kecaman. “Ada ancaman bahwa seluruh dunia akan diubah menjadi sebuah panopticon raksasa,” katanya.
‘Pandemi dalam Sorotan’ yang bisa diunduh di https://app.box.com/s/53zxab70x2xflj1ijntipb810uotlej9, juga bagian dari upaya untuk menampilkan pagebluk ini dalam wajah yang manusiawi, dan bukan sekadar angka-angka statistik. Kita percaya, statistik penting sebagai alat ukur yang pasti untuk mengambil kebijakan. Angka tidak boleh bohong dan direkayasa, karena bisa mempengaruhi sebuah kebijakan dan pengambilan keputusan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pandemi”]
Namun hanya menyajikan potret pandemi ini dalam angka kasus positif, kesembuhan, dan kematian sama saja mengabaikan aspek kemanusiaan. Angka tidak pernah bisa menjelaskan penderitaan. Hanya cerita yang dikabarkan dengan baik dan akurat yang bisa melakukannya. Narasi kesedihan tentang seseorang yang kehilangan orangtuanya maupun optimisme dari seseorang yang berusaha sembuh menjadi penanda bahwa pandemi memiliki dunianya sendiri. Para ahli punya teori. tapi ekspektasi hanya bisa dibangun dari sebuah narasi. Dan media massa seperti Beritajatim.com memiliki obligasi moral dan profesi untuk memproduksi narasi itu dengan benar.
Tapi siapa yang sudi membaca? Entahlah. Buku seserius Madilog yang ditulis di tengah masyarakat Indonesia yang masih buta huruf tentu punya cita-cita besar. Setiap buku selalu menemukan jalan menuju para pembacanya. Tan Malaka percaya itu. Dan tentu di sebuah dunia yang lebih komplet dan memungkinkan interaksi lebih luas seperti sekarang, kita lebih mempercayainya.
Era digital membuat buku tanpa fisik lebih cepat bergerak menemui pembacanya. Selama masa pandemi pada 2020 di Inggris naik 17 persen. Sementara di Amerika penjualan buku elektronik meningkat 15,2 persen pada masa yang sama. Selain itu, dari ongkos produksi, jelas buku tanpa fisik menjadi jauh lebih murah di tengah mahalnya harga kertas dan biaya percetakan. Kondisi ini tentu sesuai dengan semangat Beritajatim.com yang hendak membagikan ‘Pandemi dalam Sorotan’ secara gratis. [wir/suf]






