Surabaya (beritajatim.com) – Masa senja bagi lansia adalah waktu untuk menikmati hidup. Mengisi waktu sehari-hari dengan aktivitas ringan dan menyenangkan.
Sayangnya, hal ini tidak terjadi pada Soeratmini, (60). Dia seharusnya tinggal menikmati dana pensiunnya sebagai seorang PNS di RS Jiwa Menur, Kota Surabaya, Jawa Timur dengan nyaman.
Kenyataannya, dia tidak benar-benar ‘pensiun’. Janda tua itu kini masih harus berjuang sangat keras menghidupi ketiga cucunya yang masing-masing berusia 16 tahun, 13 tahun, dan 10 tahun.
Ketiganya tidak bersekolah. Hanya ‘protolan’ alias tidak lulus Sekolah Dasar. Berawal dari cucu tertua yang tak mau lagi sekolah, dua adiknya pun terpengaruh.
“Melihat kakaknya tidak tamat SD, akhirnya ditiru oleh adik-adiknya,” cerita Soeratmini di rumahnya kampung Dharmawangsa saat ditemui Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Imam Syafii.
Menurut Soeratmini, tiga cucu laki-lakinya itu sehari-hari menghabiskan waktu di rumah. Mereka sama sekali tidak mau belajar dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton televisi dan bermain ponsel secara bergantian.
Mereka korban perceraian orangtuanya. Leni, ibu mereka adalah anak kedua Soeratmini. Sejak bercerai, Leni kos di daerah Surabaya Barat. Lalu kawin siri dengan pria lain. Sekarang punya dua anak. Sementara Hariyanto, mantan suami Leni tinggal di Bali. Kabarnya juga sudah beristri lagi.
Baik Leni maupun Hariyanto tidak pernah memberi uang untuk ketiga putranya yang saat ini “diklemprakno” atau ditelantarkan. Sehingga, ketiganya tinggal bersama Soeratmini.
“Bisa dibayangkan bagaimana masa depan ketiga anak itu kelak? Kalau tidak suram ya kelam. Maklum, mereka tidak punya ijazah SD sekalipun. Juga tidak memiliki keahlian atau ketrampilan khusus. Ditambah lagi mereka tidak bisa seterusnya menggantungkan hidup kepada Soeratmi yang menua,” kata mantan jurnalis senior ini.
Kehidupan ekonominya juga makin sulit. Sebagian besar uang pensiunnya harus dipakai untuk melunasi cicilan ke bank lantaran punya pinjaman sebesar Rp150 juta.
“Uang pensiun saya Rp3 juta harus dibayarkan Rp2,5 juta setiap bulan ke Bank Mandiri,” terang Soeratmini.
“Saya pinjam bank untuk menutupi utang-utang saat suami sakit-sakitan dan akhirnya meninggal tahun 2012,” sambung wanita tua yang mulai terganggu pendengarannya ini.
Almarhum suaminya bekerja sebagai sopir pribadi. Soeratmini dan ketiga cucunya sering dibantu tetangga untuk bertahan hidup. Salah satunya Suryani, bendahara RT.
“Saya mendengar nasib malang Nenek Soeratmini saat bertemu Ketua RW Pak Yono dan Ketua RT-nya Mas Dayat,” kata Imam.
Ketika berkunjung, dirinya bersama Lurah Airlangga ditemui langsung Soeratmini bersama kedua cucu di tempat tinggal mereka. Rumah sederhana tersebut milik kakak Soeratmini yang dipinjamkan kepadanya. Sementara cucu ragilnya tidak tinggal bersama mereka lagi di rumah itu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”dprd-surabaya”]
Dua minggu lalu, Dharma (10 tahun) dijemput ibunya untuk tinggal bersamanya. Bukan untuk disekolahkan. Tapi untuk menjaga dua anak ibunya yang masih balita, ketika ditinggal bekerja sebagai pelayan di salah satu rumah makan.
Lurah Airlangga Sugeng berjanji menguruskan Soeratmi dan ketiga cucunya agar masuk keluarga MBR (masyarakat berpenghasilan rendah). Sehingga nantinya bisa mendapat bantuan dari pemerintah. Termasuk jatah permakanan.
“Kami juga usahakan agar mereka bisa mengikuti Program Kejar Paket, supaya punya ijazah,” kata Lurah Airlangga Sugeng yang rajin blusukan ke kampung di wilayahnya.
“Dengan bantuan Mas Imam sebagai anggota dewan, Insya Allah semuanya akan dimudahkanNya,” imbuhnya.
Sebelum pamitan pulang, Lurah pinjam Kartu Keluarga Nenek Soeratmini. Dia juga minta Ketua RW yang juga hadir untuk langsung mendaftarkan MBR melalui aplikasi via telepon genggamnya.
“Proses pendaftaran via aplikasi sudah selesai dilakukan Pak RW. Semoga lolos verifikasi faktual dari Dinas Sosial,” harap Pak Lurah yang langsung diamini Nenek Soeratmini dan cucunya.[asg/ted]






