Sidoarjo (beritajatim.com) – Khodijah masih sangat ingat kapan pertama kali dia berjualan ikan bandeng di Pasar Larangan Candi, Sidoarjo, Jawa Timur. Tepatnya antara tahun 1984-1985, di usianya yang kala itu sudah 63 tahun.
Jika ditarik ke tahun saat ini, Khodijah sudah berusia 101 tahun. Usia senja yang sangat jarang bisa dicapai orang Indonesia. Meski begitu, keistiqomahannya untuk berdagang sama sekali tidak luntur.
“Omahku ndek ngarepe toko Tanjung, Sidowayah (rumah saya di Sidowayah depan Toko Tanjung),” kata Khodijah saat lapaknya disambangi Bupati Sidoarjo H. Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) bersama Gubernur Jawa Timur Khoifah Indar Parawansa usai mengecek ketersediaan stok sembako di Pasar Larangan menjelang Ramadan Sabtu (2/4/2022).
Sebelum punya lapak ikan di Pasar Larangan, Khodijah sehari-hari berjualan di Pasar Taman Dayu, daerah Babalayar. Kini, daerah itu lebih dikenal dengan Delta Sinar Mayang dan menjadi pusat penjualan bunga untuk ziarah makam.
Dulu, Taman Dayu merupakan salah satu pusat keramaian di Kota Sidoarjo. Di tempat ini, selain berdiri Pasar Dayu juga ada pusat hiburan seperti gedung bioskop dan pasar malam.
Tahun 80-90 an, Taman Dayu jadi tempat berkumpulnya remaja zaman itu. Yang lahir generasi tahun 70 an pasti tahu bagaimana ramainya Taman Dayu atau Babalayar waktu itu.
Khodijah sendiri tidak ingat, mulai tahun berapa Ia berjualan di Pasar Dayu, yang dia ingat setelah pasar larangan selesai dibangun.
Khodijah dan kawan-kawanya sesama pedagang kemudian memilih pindah ke Pasar Larangan. Saat ini, kawannya sesama pedagang yang waktu itu ikut pindah ke Pasar Larangan sudah pada meninggal semua.

Sekarang, Khodijah termasuk pedagang paling senior di Pasar Larangan, bahkan pedagang paling tua di semua pasar di Sidoarjo. “Wes suwe dodolan bandeng nang kene, sak durunge nang taman Dayu nak, umurku wes 101 tahun (sudah lama jualan di Pasar Larangan, sebelumnya jualan di Taman Dayu. Umur saya 101 tahun,” aku Khodijah sambil mengingat-mengingat waktu itu.
Aktivitas rutin yang dijalani Khodijah setiap pagi setelah waktu subuh berangkat dari rumahnya di Sidowayah ke Pasar Larangan dengan membawa belasan Ikan Bandeng yang sudah disiapkan. Dagangan Khodijah selalu laris. Karena, bandeng yang dijualnya merupakan bandeng segar yang baru diambil dari Tambak
Saat didatangi Gus Muhdlor, dagangannya tinggal beberapa biji saja dan akhirnya habis dibeli orang yang ikut rombongan kunjungan Khofifah dan Gus Muhdlor. Dua pejabat itu juga sempat berbincang-bincang dengan Khodijah. Disela-sela kunjungan itu, Gus Muhdlor menyempatkan diri mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan kepada nenek Khodijah.
Lapak khodijah berada di shelter penjual daging dan ikan. Lokasinya berada di sebelah tengah dan paling barat pasar. Jika ingin membeli dagangan nenek Khodijah disarankan datang pagi-pagi sebelum lewat pukul 08.00 Wib. Karena kalau siang diatas jam 8 nan stok ikan bandengnya sudah banyak yang terjual. Maklum, pelanggannya juga banyak.
Saat lapaknya dikunjungi Gus Muhdlor pukul 10.00 Wib, Khodijah sudah siap-siap berkemas untuk pulang karena dagangannya sudah habis. “Siap-siap moleh nak, wes biasane moleh jam yamene (sudah siap-siap pulang, sudah biasa pulang jam segini,” ujar nenek Khodijah yang terlihat tegar menjalani hidup dengan tetap memilih berdagang meski usianya sudah melewati 1 abad tersebut. (isa)






