Bojonegoro (beritajatim.com) – Sejumlah pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Bojonegoro membuat wadah Asosiasi Pengusaha Makanan Minuman dan Industri Kreatif (APMMIK). Tujuannya, sebagai wadah pemberdayaan antaranggota,
Wakil Ketua APMMIK Sutikno mengatakan, dengan adanya wadah bersama ini diharapkan produk-produk asli Bojonegoro mencapai target pasar ekspor. Sebab, APMMIK sendiri telah berbadan hukum. Saat ini APMMIK sudah beranggotakan sekitar 200 anggota yang bergerak di industri makanan minuman, serta produk kerajinan.
“APMMIK telah berdiri sejak 2015 dan merupakan binaan dari Dinas Perindustrian Kabupaten Bojonegoro. Mewakili anggota mengucapkan terima kasih dalam membimbing dan membina sehingga APMMIK menjadi organisasi,” ujarnya saat di Warung Sambel Ale Kraaooz, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Selasa (23/3/2022).
Sutikno menjelaskan, sejumlah produk dari anggota APMMIIK sudah banyak dijumpai di pasar modern. Saat ini tengah mempersiapkan ekspor produk. Pemilik Warung Sambal Ale ini menuturkan ke depan, produk-produk IKM tidak hanya dilengkapi dengan PIRT saja, namun bergerak ke arah BPOM.
[berita-terkait number=”5″ tag=”bojonegoro”]
“Sebab, untuk ke luar negeri, produk dengan ber-BPOM lebih terpercaya. Saat ini mulai kami rintis dan persiapkan. Ada tiga produk saya yang mendapat nominasi untuk ekspor pameran di Jerman tahun ini. Di antaranya Ratu Pisang, singkong krispi dan keripik bayam,” jelasnya.
Sementara itu, Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan Ahli Muda Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Siti Syamsiah mengatakan, ke depan akan koordinasi dengan Dinas Pertanian untuk kebutuhan bahan baku para pelaku IKM. Seperti singkong dan pisang. Agar rasa produk mamin yang diolah tetap terjaga kualitasnya dengan mendapatkan varietas terbaik.
“Untuk fasilitas merk, P-IRT hingga sertifikat halal selalu kita informasikan ke ketua organisasi atau ke grup-grup lainnya. Mohon untuk para anggota agar semakin aktif dalam memperoleh informasi,” pungkasnya. [lus/kun]






