Jujur saja. Kita pada dasarnya adalah bangsa suporter yang dengan mudah menentukan posisi saat melihat orang berkonflik. Berkonflik apa saja: mulai dari urusan rumah tangga, perseteruan cinta, orang yang putus cinta, klub sepak bola, pemilihan presiden, sampai urusan sinetron Layangan Putus yang jelas-jelas tidak ada urusan dengan hidup kita. Ya, karena pada dasarnya kita suka kegaduhan. Akui saja.
Kita gampang saja meletakkan keberpihakan pada salah satu sudut. Bahkan sekalipun keberpihakan itu mengharuskan kita berhadapan dengan kawan, tetangga, atau bahkan kerabat dekat sendiri. Kita menyatakan sikap atas nama kebebasan berpendapat, seraya mengeliminasi dan tak menoleransi mereka yang berbeda haluan.
Media sosial tentu saja menjadi medium untuk mempertontonkan keberpihakan itu dengan vulgar. Media sosial adalah arena pertempuran yang tak pernah usai, tempat orang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah tanpa proses peradilan. Fakta nomor sekian. Data terabaikan. Kebenaran didasarkan pada preferensi dengan kategorisasi yang kabur: ideologi bukan, politik tak selalu, keimanan bisa ya, bisa tidak. Kita pakai kira-kira saja: mana yang benar dan salah.
Kita tak kapok, beberapa kali keliru karena kecerobohan dalam bersikap. Kita tak jera setelah beberapa kali menemukan kenyataan, bahwa apa yang kita sukai bertentangan dengan fakta. Siapapun bisa bikin hoaks. Terlepas dari preferensi dan identitas sosial politik mereka. Perkara dihukum atau tidak, itu persoalan lain. Selama satu kubu, bisa dimaafkan.
Ya, benar. Kita membikin kubu-kubu, mendirikan garis batas imajiner untuk menentukan saya dan kamu. Kami dan kalian. Panduan kita adalah garis batas imajiner ini yang mengakumulasikan saling ketidaksukaan. Lalu kita bersorak-sorai memberikan dukungan kepada gacoan kita. Jagoan kita. Memberikan narasi untuk memahami tindakannya, tak peduli benar atau salah.
Saat Putin menyerang Ukraina, kita menyalahkan Amerika dan NATO. Kita menyalahkan Ukraina yang ‘salahnya sendiri bergabung dengan NATO’. Kita bersorak memberikan dukungan Putin untuk mengirimkan pasukan ke Kiev, karena ‘kalau Ukraina bergabung dengan NATO, maka Moskow dengan mudah terancam oleh hulu ledak nuklir yang diletakkan NATO dan Amerika Serikat di negara itu’.
[Saya tidak tahu, apakah pada zaman semutakhir ini, sebuah rudal, misil, atau apapun memang harus berada di dekat sasaran karena tidak bisa menempuh jarak puluhan ribu bahkan ratusan ribu kilometer. Jika memang demikian, berarti film James Bond dan Mission Impossible benar-benar khayali.]
Saat orang mengutuk serangan Rusia ke Ukraina, kita berteriak: dasar hipokrit, kenapa tidak kau kutuk sekalian serangan Israel ke Palestina, serbuan Amerika ke Irak, Libya, Afghanistan, dan separuh lokasi di bumi. Kanapa hanya Rusia yang kau kutuk? Kenapa Amerika tidak? Dasar, antek Amerika.
Saya tidak tahu, apakah pembukaan Undang-Undang Dasar kita sudah berubah, sehingga kita memilih larut dalam propaganda semua kubu yang bertikai. Ikut menari di atas genderang perang yang ditabuh. Bela sini, bela sana, seperti lupa jika perang meluas, maka ekonomi Indonesia bakal kena terjang. Harga-harga naik, menyusul melambungnya harga bahan bakar minyak bumi, pada saat minyak goreng masih susah didapat.
“Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”
[berita-terkait number=”4″ tag=”rusia”]
Tidak disebutkan nama bangsa apapun di sana. Tidak Ukraina. Tidak Palestina. Tidak Libya. Tidak Irak. Karena pada dasarnya memang tidak dibutuhkan nama di sana untuk menyatakan tindakan invasi terhadap negara lain adalah tidak beradab. Apapun dalihnya. Apapun rasionalisasinya. Entah karena urusan geopolitik atau kerakusan politik. Menyerang negara lain tidak sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar kita.
Menyerang negara lain yang berdaulat sama halnya dengan menjajah dan merampas kemerdekaan mereka. Merampas hak untuk menentukan nasib sendiri. Cobalah melihatnya dari perspektif negara dan bangsa yang tengah diserang. Kita pernah merasakan bagaimana kedaulatan bangsa ini diganggu oleh negara lain yang merasa punya alasan untuk menyerang dan menduduki Indonesia.
Kita melawan. Kita mencari dukungan dari dunia internasional. Tak peduli negara mana saja, kita rangkul dan kita jabat tangan pemimpin mereka.
Sementara itu, para pejuang kita yang baku tembak di jalanan, bergerilya di hutan, atau melakukan penyergapan di kota tak peduli soal geopolitik. Yang mereka tahu: mereka sedang mempertahankan hak dan kedaulatan atas tanah mereka sendiri. Hak untuk menentukan nasib sendiri.
Sesederhana itu. Dan sejarah sudah mengajarkan dengan terang benderang.
Dunia internasional memang hipokrit. Mengutuk Rusia, tapi tidak mengutuk Israel dan Amerika. Menghancurkan ekonomi Rusia, tapi membiarkan Israel dan Amerika melenggang dengan tangan berlumur darah. Namun saya tidak tahu, dalih apa yang hendak kita pakai untuk kemudian mengabsahkan kemunafikan yang sama dalam urusan Rusia dan Ukraina.
Serangan Rusia terhadap Ukraina sama salahnya dengan invasi Israel terhadap Palestina, penaklukan Amerika terhadap Irak, Libya, Afghanistan. Saya berharap pemerintah Indonesia berdiri dengan gagah di hadapan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, untuk mengingatkan bahwa bukan hanya Ukraina yang menderita dan menyebutkan deretan panjang bangsa-bangsa yang remuk karena invasi negara lain.
Invasi bisa menghadirkan motif yang berbeda. Namun dampak perang tak bisa ditakar dari motif.
Motif demokrasi, mempertahankan diri, membela kehormatan, atau kerakusan berdiri sama rendahnya di hadapan mereka yang mati di ujung pelor dan ledakan bom, tertunduk sama hinanya di hadapan mereka yang menangis karena kehilangan orang-orang yang dicintai. Tak bisa mengembalikan mereka yang telah dimakamkan dengan requiem pilu. [wir/suf]






