Perang Rusia versus Ukraina belum sampai seminggu. Diperkirakan implikasi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan geopolitik global mengalami perubahan besar pascaperang tersebut.
Implikasi ekonomi akan berdampak luar biasa pada banyak negara. Bukan hanya dua negara yang sedang berperang: Rusia dan Ukraina. Rusia dikenal memiliki kapasitas ekonomi dan militer besar di dunia.
Rusia juga dikenal sebagai pimpinan CSTO, kerja sama sejumlah negara di bidang pertahanan keamanan. Sebagian besar anggotanya adalah negara bekas pecahan Uni Sovyet.
Di bidang ekonomi energi, Rusia memasok 10% kebutuhan minyak global. Banyak negara di Eropa Barat, seperti Jerman, yang mengandalkan pasokan gas dari Rusia.
Minyak mentah tak sekadar menjadi komoditas andalan sejumlah negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Iran, Kuwait, Irak, dan lainnya. Dalam 15 tahun terakhir, tingkat produksi minyak mentah Rusia nyaris menyamai lifting minyak Arab Saudi. Rusia dan Venezuela, dua negara berpaham Sosialis, yang memiliki lifting minyak besar di pasar global. Bahkan, cadangan minyak terbesar di dunia berada di Venezuela kemudian diikuti Arab Saudi.
Pada Selasa (1/3/2022) di depan peserta Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-Polri di Plaza Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Presiden Jokowi mengungkapkan secara runut penyebab dari bakal naiknya harga-harga barang.
Pertama, kata Presiden Jokowi, hal itu dipicu oleh semakin langkanya kontainer di seluruh dunia. Kelangkaan kontainer ini disebutkan akan memicu ongkos angkut atau freight cost naik, sehingga memicu kenaikan biaya logistik.
Penyebab kedua, terjadi kelangkaan pangan di berbagai belahan dunia sehingga menyebabkan harga-harga pangan juga ikut naik. Di beberapa negara sudah ada kenaikan harga pangan hingga 90 persen. Kenaikan harga pangan itu diperparah dengan kenaikan inflasi sebagai penyakit ekonomi di banyak negara yang sedang membangun.
Keempat, sudah terjadi kelangkaan energi di dunia ini. Kondisi ini diperburuk dengan adanya perang yeng terjadi di antara Rusia dan Ukraina. Akibatnya, harga BBM hingga LPG diperkirakan naik.
Secara faktual, kini harga minyak mentah di pasar global terus naik. Pada Desember 2021, harga minyak mentah global di kisaran USD 70 per barel. Pada perdagangan Selasa (1/3/2022), minyak mentah jenis Brent ditransaksikan seharga USD 98,27 per barel atau naik 0,19% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Sedang untuk minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada harga USD 95,84 per barel atau naik 4% dibanding hari sebelumnya.
Di sisi lain, tingkat permintaan dan konsumsi BBM di Indonesia mengalami kenaikan secara konsisten dari tahun ke tahun. Kini, tingkat kebutuhan BBM di negara ini diperkirakan sebesar 1,5 juta barel per hari. Di sisi lain, tingkat lifting minyak mentah secara nasional kurang dari 700 ribu barel per hari.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto menyatakan terdapat selisih dalam produksi minyak siap jual atau lifting pada 2022. Pemerintah menargetkan lifting di tahun ini sebesar 703 ribu barel per hari (BoPD).
Sementara dalam pertemuan antara SKK Migas dengan KKKS berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran (WP&B) 2022 ditemukan angka produksi minyak yang memungkinkan untuk diproduksi di tahun ini hanya 654 ribu barel per hari.
Ketika harga minyak mentah global telah menyentuh lebih USD 100 per barel, diperkirakan rezim pemerintahan di banyak negara akan kelabakan dan mengevaluasi policy ekonomi yang direncanakan sebelumnya, terutama terkait PSO sector energi.
Analisa perhitungan ahli ekonomi energi menyebutkan, jika harga minyak mentah global berada di angka USD 120 per barel, maka harga BBM di Indonesia bisa menyentuh Rp 13.000 sampai Rp 15.000 per liter. Itu tentu harga keekonomian BBM yang tak memperoleh subsidi dari pemerintah.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai harga BBM berpotensi naik apabila harga minyak global terus menanjak. Kenaikan berpotensi terjadi untuk jenis diesel atau yang memiliki tingkat RON 92 ke atas, karena harga jual mengikuti harga produksi terkini.
Dia menjelaskan, jika harga minyak internasional naik jadi USD 120 per barel, maka harga eceran rata-rata bisa berkisar di level Rp 13 ribu-Rp 15 ribu per liter, tergantung jenis BBM. Mengambil contoh jenis Pertalite yang kini dijual Rp 9.000-an per liter, ia menilai harga bisa naik jadi Rp 12 ribu per liter.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ainur-rohim”]
Kenaikan harga minyak mentah global tanpa diiringi dengan kenaikan harga BBM oleh pemerintah, maka PT Pertamina dan pemerintah yang menanggung beban keuangan yang makin berat. Pada 2022, besaran subsidi energi yang diberikan APBN sebesar Rp 77 triliun, dengan asumsi makro Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD 55 – USD 70 per barel.
Pengamat Energi dari Energy Watch Mamit Setiawan menyatakan, mengingat pasokan BBM masih mayoritas dipenuhi dari impor, tentu imbas kenaikan harga sangat besar. Mamit menghitung, sepanjang tahun lalu, PT Pertamina dan pemerintah menanggung potensial loss atau kerugian Rp 80-an triliun dari selisih harga jual Pertalite dan Pertamax.
Mamit sepakat dengan pandangan Fabby bahwa jika harga minyak mentah di pasar global menembus USD 120 per barel, harga BBM non-subsidi akan naik di kisaran Rp 2.500an per liter. Kenaikan juga berpotensi terjadi gas cair (LPG). Artinya, kita mesti siap-siap harga BBM dan berbagai komoditas ekonomi mengalami kenaikan. Apalagi jika perang Rusia versus Ukraina berlangsung lama. [air/but]






