Jember (beritajatim.com) – Ritual maut di Pantai Payangan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang menewaskan sebelas orang pengikut padepokan Tunggal Jati Nusantara yang dipimpin Nur Hasan, Minggu (13/2/2022), menghebohkan publik. Orang bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kelompok tersebut.
Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember menurunkan tim yang dipimpin langsung oleh sang ketua KH Abdul Haris untuk menyelidiki pemikiran dan sepak terjang kelompok ini. Ada dua orang pengikut Nur Hasan, dua orang guru Nur Hasan, seorang takmir masjid yang diwawancarai. Bahkan terakhir, MUI mendapat akses untuk bertemu Nur Hasan yang tengah ditahan kepolisian.
Berdasarkan hasil investigasi MUI Jember, ada sejumlah fakta unik dan menarik yang ditemui.
11. Jumlah anggota kelompok Tunggal Jati Nusantara tidak diketahui dengan pasti. Data kepolisian menyebutkan jumlah sekitar 40 orang. Keterangan dari Huda menyebutkan perkiraan sekitar 60 orang. Namun, menurut dua murid Nur Hasan, anggota kelompok yang aktif di grup WhatsApp mereka hanya 23 orang.
12. Rekruitmen anggota dilakukan dari mulut ke mulut. Umumnya mereka adalah para pasien yang mengaku telah disembuhkan oleh Nur Hasan dan pemuda sekitar Kecamatan Sukorambi. Para pengikut bergabung dengan motif beragam, mulai dari ingin memperlajari ilmu hakikat dan makrifat, menambah kekayaan, hingga terbebas dari ilmu gaib.
13. Baiat dilakukan Nur Hasan pukul 01.15 dini hari tanpa diketahui warga sekitar, yang menurut anggota kelompok itu sesuai dengan baiat yang dilakukan Muhammad SAW terhadap Ali Bin Abi Thalib.
14. Anggota padepokan membayar iuran sukarela Rp 10 ribu sebagai angsuran biaya ziarah. Mereka telah berziarah ke makam Syaikhona Kholil di Bangkalan Madura.
15. Kelompok ini telah empat kali melakukan ritual di Pantai Payangan dan dua kali ritual di tepi sungai Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari. Ritual ketujuh di Payangan menyebabkan sebelas orang meninggal.
16. Nur Hasan memimpin kegiatan semedi yang dilakukan secara tertutup dan dalam keadaan lampu padam, untuk makrifatullah dan mengenal zat Allah.
17. Murid yang mengikuti semedi dilarang menceritakan pengalaman kepada orang lain sebelum mendapat izin dari Nur Hasan. Jika melanggar, maka murid itu akan mati seketika.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ritual-maut”]
18. Saat berendam di sungai, kegiatan semedi dapat berlangsung hingga sekitar 1,5 jam. Setelah berzikir, acara dilanjutkan dengan makan-makan atau mengobrol.
19. Bacaan zikir saat mengawali ritual di pantai selatan adalah
Shalawah walaiwasalam 3x
Bismillahirrahmanirrahim 3x
Kaulo putro ngaturaken sembah sungkem pangabekti
Kaulo kunjuk dumateng panjenengan dalem kanjeng gusti ratu wonten ing kraton suci samudro kidul
20. Saat hendak pulang, maka diucapkan salam kembali sebagai berikut: Sembah sungkem pangabekti kaulo kunjuk dadosno kaweningan panjenengan dalem sak lengser kaulo. Dalem mugi kalis sangking rubedo ing sambi kaulo berkah pangestu panjenengan dalem kang tansah kaulo pundi.
Shallallahu alaihi wasallam 3x
21. Beberapa bacaan yang diamalkan tidak boleh ditulis di ponsel karena bisa meledak. Para anggota hanya diperbolehkan menghapalnya.
22. Kelompok ini juga memiliki ajaran yang mereka sebut sebagai dulur papat limo pancer yang tidak bisa dijelaskan kepada selain murid khusus Nur Hasan. [wir/suf]






