Probolinggo (beritajatim.com) – Di tengah pandemi Covid-19, Kabupaten Probolinggo sudah bisa memberangkatkan puluhan jemaah umrah perdana. Pemberangkatan itu dilepas langsung oleh Plt Bupati Probolinggo, HA. Timbul Prihanjoko, di halaman STEBI BAMA, Kelurahan Patokan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Senin (7/2/2022).
Turut hadir dalam prosesi tersebut Kepala kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, Akhmad Sruji Bahtiar serta Kepala OPD terkait di Pemkab Probolinggo, dan Forkopimka Kraksaan.
Dalam sambutannya Plt Bupati Probolinggo, Timbul Prihanjoko mengatakan bahwa sebelumnya
umrah ditutup oleh Pemerintah Arab Saudi per tanggal 27 Februari 2020 lalu. Kemudian sempat dibuka pada periode Januari hingga Februari 2021. Namun ditutup kembali karena kendala pandemi Covid 19.
Timbul menjelaskan, total jemaah umrah yang berangkat per tanggal 29 Januari 2022 berjumlah 8.010 orang, dari 157 penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU). “Ibadah umrah alhamdulillah dibuka kembali dengan salah satu ketentuannya bahwa semua calon jemaah umrah telah divaksin dosis ke-2 dan negatif Covid-19, dan kabar terbarunya bagi yang sudah vaksin dua kali, masa karantina kepulangan perjalanan luar negeri saat ini hanya lima hari saja,” terangnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”haji”]
Selanjutnya ia mengimbau masyarakat Kabupaten Probolinggo khususnya jemaah umrah untuk terus mematuhi protokol kesehatan serta mengikuti program kegiatan yang telah direncanakan oleh biro perjalanan.
“Selamat menunaikan ibadah umroh kepada 46 orang jama’ah yang semuanya berasal dari Kabupaten Probolinggo, titip nama baik Kabupaten Probolinggo dan manfaatkan betul kesempatan ditakdir bisa ke baitullah dan maqbarah Rosulullah,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, Akhmad Sruji Bahtiar dslam sambutannya menegaskan bahwa saat ini pemberangkatan jamaah umroh diberlakukan one gate policy yakni diberangkatkan terpusat di Jakarta.
Bahtiar menjelaskan sebelum diberangkatkan, seluruh jama’ah akan dilakukan swab antigen, bagi yang positif terpaksa tidak diberangkatkan. Sedangkan bagi yang sehat dan hasil swab-nya negatif saat tiba di Madinah harus menjalani karantina selama tiga sampai lima hari.

“Begitu juga kepulangannya, harus dilakukan swab lagi, jika dinyatakan positif maka harus dirawat di Arab Saudi, setelah negatif baru bisa pulang, dan selanjutnya di Jakarta juga harus menjalani masa karantina, Intinya protokol kesehatan itu memang sangat ketat,” urai Bahtiar.
Ia menjelaskan, keberangkatan perdana ini menjadi acuan bagi grup calon jamaah umroh berikutnya. “Karena ini telah menjadi komitmen bersama, tentunya pemberangkatan perdana ini akan menjadi acuan bagi grup grup selanjutnya, kalau ini sukses tentu akan menjadi pedoman bagi pemberangkatan berikutnya,” tukasnya. [tr/but]






