Jember (beritajatim.com) – Dalam kamus besar bahasa Indonesia, epigon adalah orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Bagaimana menulis tanpa harus menjadi epigon penulis lain atau penulis idola?
Hal ini ditanyakan Fadhillah, perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jember, kepada Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong, penulis buku Balada Si Roy yang menjadi Duta Baca Indonesia, dalam acara Safari Literasi Nasional, di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (5/2/2022), sebagaimana dilansir Humas Unej.
Gol A Gong menyarankan Fadhillah agar mulai menulis saja, termasuk menulis pada buku harian. Pembentukan jati diri penulis bisa dilatih misalnyadengan memasukkan unsur lokalitas sekitar. Salah satunya adalah dengan memasukkan informasi mengenai kondisi geografis Jember, kondisi sosiologi masyarakatnya, atau kulinernya saat menulis cerpen. “Maka Anda akan mendapatkan cerita yang berbeda dengan orang lain,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”literasi”]
Gol A Gong juga menekankan perlunya riset. “Menulis fiksi pun tak ubahnya menulis skripsi yang memerlukan riset. Bedanya, hasil riset tersebut kita padukan dengan imajinasi kita,” kata Gol A Gong yang baru saja merilis buku otobiografi berjudul ‘Gong Smash. Dari Raket Ke Pena, Dari Lapangan Ke Petualangan’.
Dalam kesempatan itu Gol A Gong menghadiahkan buku karyanya kepada Rayya Sri Sadana, bocah yang aktif di Taman Bacaan Masyarakat Rimba Ambulu. Rayya menghadiahkan gambar Gol A Gong yang tengah menaiki pohon kepada penulis idolanya itu. “Semoga Rayya nanti menjadi penulis komik jagoan di Indonesia,” katanya. [wir/but]






