Khofifah Indar Parawansa menduduki jabatan Gubernur Jatim sejak Februari 2019. Awal tahun 2022 menjelang 3 tahun masa kepemimpinannya. Aktivis Muslimat NU ini sebagai perempuan pertama yang duduk di kursi Gubernur Jatim. Sebab, gubernur Jatim sebelumnya dijabat purnawirawan militer dan atau politikus bergender laki-laki.
Selama hampir 3 tahun memimpin Jatim yang tingkat demografinya hampir 40 juta jiwa, kepemimpinan Khofifah tak selalu diwarnai dengan kondisi normal. Setidaknya dalam 2 tahun terakhir, lingkungan kesehatan diterpa pandemi Covid-19 dengan berbagai implikasi buruk yang menghantam sendi-sendi ekonomi, sosial, dan kultur masyarakat Jatim.
Walau demikian, kepemimpinan pemerintahan di Jatim di bawah kendali Khofifah terus hadir. Selalu menyapa warga di kala sedang duka. Pandemi Covid-19 bisa dikendalikan dengan baik di provinsi ini. Khofifah merupakan figur yang menerapkan pola kepemimpinan dalam tindakan. Artinya, seorang pemimpin yang dituntut untuk bisa menyelesaikan masalah secara cepat dan cermat dengan solusi yang ideal. Solusi yang sejalan dan linier dengan problema yang muncul dan dibutuhkan publik.
Fenomena Pemimpin Wanita
Dia hadir langsung. memetakan, mendiagnosis, menyampaikan alternatif pemecahan masalah, sekaligus sebagai policy maker dalam memecahkan banyak problem yang muncul di kalangan rakyat. Tak kalah penting memberikan direction atas policy yang diambilnya. Semua terkawal dan terselesaikan secara tuntas.
Kepemimpinan wanita di struktur pemerintahan di Jatim merupakan fenomena politik baru. Harapannya memberikan warna tak selalu sama dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Sentuhan kepemimpinannya diharapkan makin memperkuat nilai-nilai demokrasi dan humanisme.
Kajian Eagly dan Johnson (1990) membuktikan bahwa gaya kepemimpinan feminism dimiliki seorang perempuan lebih cenderung demokratik dibandingkan laki-laki. Tapi, watak kepemimpinannya tetap kuat dan berkarakter.
Publik tentu ingat Margaret Thatcher, Perdana Menteri Inggris di tahun 1980-an sampai 1990-an dari Partai Konservatif. Thatcher memiliki tekad kuat, keinginan belajar tinggi, dan keberanian dalam dirinya, sehingga berhasil mendobrak tembok penghalang permasalahan kepemimpinan gender di ranah politik praktis.
Dia pekerja keras, tidak takut dengan resiko apa pun, dan cepat serta tanggap dalam mengatasi suatu masalah, seperti dalam penyelesaian konflik Inggris versus Argentina terkait Pulau Malvinas.
Kendati saat itu ekonomi Inggris sedang tidak baik dan sahabat terdekatnya, Presiden AS Ronald Reagen, menasihatinya agar dia berunding dengan Argentina sebelum mengirim tentara, kapal perang, dan jet tempur ke Malvinas. Thatcher bersikukuh bahwa operasi militer adalah pilihan terbaik untuk merebut kembali Malvinas dan mengembalikan harkat serta martabat bangsa Inggris di mata dunia.
Secara obyektif, sejarah mencatat, Reagan dan Thatcher adalah figur sentral dalam banyak langkah politik negara-negara Barat yang kemudian membantu mengakhiri Perang Dingin, sekaligus menumbangkan komunisme internasional di bawah kepemimpinan Uni Soviet.
Di ranah ekonomi, Thatcher berani melakukan policy tak populer dengan melakukan privatisasi aset ekonomi negara dengan harapan perekonomian negara stabil, dengan pelibatan sektor swasta yang makin besar dan luas di lanskap perekonomian Inggris.
Begitu dia yakin bahwa kebijakannya benar, dia tidak akan berputar haluan karena tekanan massa maupun nasihat para pembantu-pembantunya. Policy privatisasi Thatcher ditiru banyak negara di dunia, termasuk Indonesia sejak menjelang akhir era Orde Baru Soeharto hingga sekarang.
Di level global, banyak pemimpin wanita kinerja politiknya jempolan. Selain Thatcher, ada Indira Gandhi yang duduk di kursi Perdana Menteri India. Gandhi politikus Partai Kongres, partai berpaham Nasionalisme di India. Dia anak Jawaharlal Nehru, tokoh pergerakan dan mantan Perdana Menteri India yang bersahabat baik dengan Bung Karno.
Di Benua Eropa, nama Angela Markel adalah Kanselir Jerman yang memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, tegas, dan taken risk dalam menjalani proses kepemimpinan politik yang dikendalikannya.
Tak banyak wanita Indonesia terjun di ranah politik dan mampu menapaki kepemimpinan politik di level tinggi. Megawati Soekarnoputri dan Khofifah adalah dua di antara yang sedikit tersebut.
Mega figur representasi kekuatan sayap Nasionalis, Khofifah mewakili politikus wanita dari sayap Islam Tradisional (NU). Keduanya sama-sama memimpin organisasi besar dengan jenis kelamin berbeda. Mega memimpin PDIP, kekuatan politik kaum Nasionalis yang memiliki paralelisme historis dan politik dengan PNI yang didirikan Bung Karno. Di sisi lain, Khofifah beberapa periode menduduki posisi Ketua Umum PP Muslimat NU (ormas Islam dan bagian dari sayap NU).
Pengalaman empiris di lapangan politik praktis sebagai anggota DPR/MPR RI, menteri di Kabinet Presiden Gus Dur dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan kenyang pengalaman di lapangan sosial sebagai aktivis NU sejak muda, memberikan input penting dan jadi pedoman kepemimpinan Khofifah sebagai gubernur Jatim. Jiwa dan visi kerakyatan Khofifah terasah, terpupuk lama dan membimbingnya dalam menapaki kepemimpinan politik sebagai orang pertama di Jatim.
Pemberdayaan Wong Cilik
Perhatian dan komitmen politiknya pada pemberdayaan wong cilik, kaum mustadhafin (kaum lemah) tak pernah dilupakan. Sekadar contoh, hampir di setiap kegiatan seremoni yang dihadiri Gubernur Khofifah, ada aktifitas pemberian santunan kepada anak yatim piatu dan kaum lemah sebelum acara dimulai. Apalagi, kalau kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Negara Grahadi. Sentuhan dan langkah riil tersebut menggambarkan kuatnya atensi dan komitmen politik Khofifah dalam memberdayakan kaum lemah.
Lapangan sosial dan politik adalah dua wilayah di mana Khofifah kenyang praktek dengan warga pengalaman yang bermacam-macam. Hal itu tak berarti dia melupakan satu sektor lain yang berhubungan dengan rakyat di semua level: bidang ekonomi. Jatim lumbung pangan nasional (dalam makna luas: pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan) adalah cerita lawas yang bertahan hingga sekarang. Ketahanan pangan nasional salah satunya ditentukan pada ketahanan dan produktifitas pangan Jatim.

Kepemimpinan Khofifah juga menaruh perhatian besar dan punya ekspektasi tinggi di bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diimbangi dengan policy pemerataan yang diterapkan secara istiqomah, tegas, terukur, dan berkelanjutan akan berpengaruh pada akselerasi promosi kesejahteraan rakyat, penurunan angka indeks Gini Ratio, dan mempersempit peluang munculnya pertentangan sosial di masyarakat.
Pertumbuhan dan pemerataan pembangunan tak dihadapkan pada realitas trade of. Saling bertentangan, saling membunuh, dan saling melemahkan. Bukan pula pada paradigma disparitas sosial yang makin njomplang adalah harga yang harus dibayar untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Kapasitas ekonomi Jatim di tahun 2021 diperkirakan bisa tembus Rp 2.300 triliun. Skala kue ekonomi yang hanya dikalahkan Provinsi DKI Jakarta. Pada 2020 lalu, kendati ekonomi Jatim mengalami kontraksi hebat akibat pandemi Covid-19, ternyata besaran PDRB Jatim atas dasar harga berlaku mencapai Rp 2.299,46 triliun: satu volume kue ekonomi yang besarnya sekitar 15-18 persen dari kue ekonomi nasional.
Pemulihan Ekonomi Paska Pandemi
Pada 2021, perekonomian Jatim diperkirakan akan tumbuh 3,2 sampai dengan 4,0 persen, membaik dibanding pertumbuhan 2020. Pertumbuhan tersebut salah satunya ditopang peningkatan kinerja industri manufaktur. Hasil survei menunjukan bahwa di Jatim terdapat peningkatan capacity untuk industri dari 40 persen menjadi 70 persen. Pada tahun 2022, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan perekonomian Jatim sekitar 5,0 sampai dengan 5,8 persen atau sudah mendekati pola normal tatkala sebelum terjadinya pandemi.
Ada banyak sektor ekonomi yang mempercepat pemulihan ekonomi di Jatim. Di antaranya tren pemulihan konsumsi swasta, ekspor luar negeri, dan akselerasi gerakan peningkatan investasi. Peningkatan investasi ini salah satunya didorong adanya sejumlah proyek strategis nasional sebagai pelaksanaan dari proyek Perpres 80/2019 dan peningkatan investasi swasta.
Dua di antara proyek strategis yang ada di Jatim adalah pembangunan smelter oleh PT Freeport Indonesia di Gresik dan pembangunan kilang minyak di Tuban oleh PT Pertamina dan Rosneft dari Rusia.
[berita-terkait number=”4″ tag=”khofifah-indar-parawansa”]
Pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery/GRR) di Tuban menelan investasi sebesar USD 16 miliar atau sekitar 230,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.400 per USD).
Proyek Kilang Tuban ini akan memproduksi minyak dengan kualitas standar Euro 5. Proyek ini memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah 300 ribu barel per hari (bph) dan memproduksi sekitar 98 ribu barel per hari (bph) atau sekitar 15,6 juta liter per hari minyak diesel, 80 ribu barel per hari (bph) atau sekitar 12,8 juta liter per hari bensin, 27 ribu bph atau sekitar 4,3 juta liter per hari avtur, dan sekitar 4,25 juta ton per tahun petrokimia, seperti ethylene glycol, polypropylene, paraxylene, polyethylene, dan styrene.
Sedang di Kabupaten Gresik dilakukan pembangunan smelter milik PT Freeport Indonesia dengan nilai investasi Rp 42 triliun. Smelter Freeport Indonesia di Gresik akan menjadi fasilitas pemurnian tembaga untuk menghasilkan katoda tembaga serta pemurnian logam berharga lainnya.
Selain itu, ada fasilitas pemurnian logam berharga yang menghasilkan emas, perak, dan logam berharga lain. Diperkirakan nantinya akan diproduksi emas 35 ton per tahun, dengan nilai transaksi sekitar Rp 30 triliun. Di tahap konstruksi, smelter ini diharapkan bisa menyerap 40.000 tenaga kerja dan di fase produksi membutuhkan sebanyak 2.500 tenaga kerja.
Memadukan dan menyerasikan banyak sektor ekonomi, terutama berskala besar, sedang, kecil, dan mikro, dalam satu ekosistem praktek ekonomi yang saling mendukung dan menguatkan bukan hal mudah. Dalam konteks ini, positioning, peran, dan pengaruh regulator, pemerintah sangat penting.
Posisi dan kepemimpinan figur puncak pemerintah daerah, Gubernur Khofifah, sangat strategis dalam membangun ekosistem ekonomi yang saling menguatkan. Skala pelaku ekonomi besar bukan menjadi predator bagi yang kecil dan sedang. Di sisi lain, pelaku ekonomi skala kecil dan mikro tak melulu mengharapkan charity dari pelaku ekonomi besar. [air/habis]






