Jember (beritajatim.com) – Karakter setiap gunung berapi itu unik. Karakter ini perlu dikenali tidak hanya oleh masyarakat sekitar gunung berapi dan petugas pos pantau, namun juga oleh personel tanggap bencana dan pemegang kebijakan. Bahkan wartawan pun dapat mengenalinya sebagai bagian diseminasi informasi bencana kepada masyarakat.
Hal ini dikemukakan Yudhiakto Pramudya, dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan anggota Community Emergency Response Team, Amerika Serikat 2010-2013, kepada beritajatim.com, Sabtu (18/12/2021).
Salah satu yang perlu diperhatikan adalah karakter tumbuhnya kubah lava. Yudhiakto mencontohkan karakter di Gunung Semeru, yang telah ditetapkan statusnya menjadi Waspada atau Level II sejak 2021.
“Kubah lava ini dapat dipengaruhi kerapuhannya oleh curah hujan yang tinggi saat musim penghujan. Dampaknya dapat dilihat pada luncuran awan panas yang dapat mencapai 11 kilometer ke arah tenggara,” kata pemegang Sertifikat Intermediate Incident Command System for Expanding Incidents, Connecticut, Amerika Serikat, ini.
“Bila membaca kronologis erupsi, Sabtu (4/12/2021), peningkatan sangat cepat dimulai dari pukul 14.47 WIB dengan adanya aktivitas kegempaan, Pukul 15.10 WIB terjadi awan panas dan abu vulkanik. Perlu diingat bahwa awan panas dapat meluncur sangat cepat yaitu 100 kilometer per jam,” kata Yudhiakto.
Pengenalan karakter ini akan berdampak pada pola mitigasi bencana yang ditetapkan. “Mitigasi bencana merupakan salah satu dari siklus manajemen bencana. Kesiapsiagaan, Tanggap Bencana, dan Pemulihan menjadi tahap selanjutnya dalam siklus tersebut. Saat ini, kegiatan masuk dalam fase Tanggap Bencana. Namun, tidak salahnya bila kita sudah mulai memikirkan mitigasi bencana pada kejadian erupsi Gunung Semeru,” kata Yudhiakto.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gunung-semeru”]
Menurut Yudhiakto, mitigasi mencakup segala upaya yang ditargetkan untuk mengurangi risiko bencana. “Pada setiap bencana terdapat risiko yang dapat dianalisis yang melingkupi potensi kerugian pada suatu waktu tertentu dan di daerah tertentu,” katanya.
Mitigasi bencana dapat dibagi menjadi mitigasi struktural dan non struktural. Pembangunan sarana dan prasarana dengan berbantuan teknologi untuk mengurangi risiko bencana merupakan bagian dari mitigasi struktural.
“Di area gunung berapi, sudah jamak dibuat sabo dam untuk membendung aliran lahar. Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) juga sudah disiapkan. Pos pantau selalu siap setiap saat memantau dan melaporkan kenaikan aktivitas gunung berapi.” kata alumnus SMA Negeri 5 Surabaya ini.
Mitigasi ini perlu dilengkapi dengan penyusunan kebijakan dan peraturan yang berkaitan dengan pengurangan risiko bencana. “Selain itu, sosialiasi tentang kegunungapian termasuk simulasi evakuasi saat erupsi harus terus dilakukan. Masyarakat dapat turut andil dalam membantu sosialisasi bahkan melaporkan gelaja-gejala penanda awal erupsi yang mungkin tidak terdeteksi oleh pos pantau,” kata Yudhiakto.
Yudhiakto berharap, media massa dan masyarakat melalui media sosial dapat membantu mengabarkan kondisi Gunung Semeru setiap saat, terlebih sebelum terjadi erupsi. “Istilah sains perlu diperkenalkan dengan lebih sering sehingga masyarakat dapat terbiasa untuk memahami setiap kabar dari petugas pos pantau. Di sinilah peran jurnalistik sains dan jurnalistik bencana dalam mitigasi bencana. Tidak lepas juga peran komunitas sejarah yang dapat senantiasa mengkompilasi data kebencanaan terutama erupsi Gunung Semeru sehingga masyarakat dapat meningkat kapasitas antisipasi bencananya,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”bencana-alam”]
Erupsi Semeru telah menghancurkan banyak rumah dan harta-benda warga. Pemerintah tengah berupaya merelokasi rumah-rumah warga tersebut, “Namun, realiasasinya kadang tidak mudah. Perlunya sosialiasi dan pemahaman berbagai pihak termasuk pembentukan Sistem Komando Bencana yang terstruktur rapi. Kearifan lokal juga tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam menyusun program-program mitigasi bencana,” kata Yudhiakto.
Pelibatan pemuka agama juga diperlukan seiring dengan meningkatnya literasi bencana dalam perspektif agama. “Sebagai contoh adanya Fikih Kebencanaan di Muhammadiyah. Mitigasi bencana perlu dilakukan rutin dan inklusif termasuk mitigasi pada difabel. Semoga para personel tanggap bencana erupsi Gunung Semeru tetap sehat dan selamat dan korban dapat diringankan bebannya,” kata Yudhiakto. [wir/suf]






