Surabaya (beritajatim.com) – Gangguan pada kesehatan mental kerap ditemui di banyak tempat. Tak hanya dewasa, tapi juga ada dari kalangan anak-anak. Terlebih dalam masa pandemi seperti ini yang menjadikan ruang gerak masyarakat serba terbatas.
Menurut dokter Waskita Roan selaku psikiater, mengungkapkan setidaknya ada beberapa jenis seseorang mengalami gangguan jiwa. Beberapa di ketika depresi, insomnia, emosional, panik, fobia, kecanduan game, narkoba, hingga skizofrenia.
Adapun digolongkan menjadi tiga faktor salah satunya faktor biologis. Biasanya, karena unsur genetik, penyakit otak, cedera kepala, penyakit fisik, atau obat-obatan.
Sedangkan faktor psikologis, lebih pada pola asuh yang salah, kepribadian masing-masing, atau karena trauma. Selain itu, juga ada faktor sosial, seperti budaya, ekonomi, agama, dan pendidikan.
Bening Lara, selaku founder Mindfulness Indonesia dalam webinar Mindfulness for Mental Health Disorders menjelaskan bahwa kondisi stres sebetulnya karena kita berharap berada pada tempat dan waktu yang berbeda dari saat ini. Biasanya ditandai dengan situasi di mana seseorang mengalami mood yang berubah-ubah.
Adapun beberapa cara untuk meminimalisir atau bahkan menyembuhkan gangguan jiwa akibat stres tersebut. Salah satunya dengan melakukan terapi mindfulness. Terapi ini merupakan jenis psikoterapi yang melibatkan kombinasi antara terapi kognitif dan mediasi.
Selain bermanfaat untuk meningkatkan awareness diri sendiri dan sekita, mindfulness juga bisa membuat seseorang menyadari setiap perasaan, pikiran, serta sensasi tanpa menghakimi sesuatu hal. Bahkan, terapi ini juga dipercaya dapat mengurangi depresi, kecemasan, dan kesehatan mental lainnya.
“Untuk jenis terapi ada empat, yaitu mindfulness-based stress reduction, dialectical behavior therapy (DBT), acceptance and commintment therapy (ACT), dan minfulness-based cognitive therapy,” ujarnya.
Adapun mindfulness meditatif yang merupakan praktik untuk meningkatkan dan mempertahankan kesadaran dengan fokus pada nafas dan mengamati seluruh sensasi yang dirasakan. Caranya dengan berlatih menciptakan suasana yang nyaman dan rileks. Bisa juga dengan menggunakan musik atau bahkan tidak sama sekali.
Kemudian mulai dengan memejamkan mata, lalu memusatkan perhatian pada pernafasan. Ketika pikiran muncul berbagai ‘percakapan dan judgement’ cukup hanya diamati, lalu fokuskan pada pernafasan lagi.
“Pada dasarnya dalam mindfulness meditatif berbagai percakapan dan judgment yang muncul itu wajar, tidak ada yang salah maupun yang benar,” imbuhnya.
Bening juga menyarankan untuk tidak perlu menghakimi pikiran sendiri dan cukup menjadi pengamat atas apapun yang diri sendiri rasakan dan fikirkan. [fyi/tur]






