Surabaya (beritajatim.com) – Bisa jadi musim sepakbola di Greenland ini merupakan salah satu turnamen paling aneh di dunia. Sejak tahun 1971, pesepakbola terbaik Greenland berkumpul untuk bermain di sebuah kompetisi selama seminggu yang menjadi turnamen terpendek di dunia.
Namun menariknya untuk mencapai stadion pertandingan setiap tim harus berlayar ke pulau dengan para pemain. Ada delapan tim dari seluruh negeri yang bersaing dalam turnamen yang digelar selama seminggu ini.
Para tim sampai di sana setelah memenangkan pertandingan kualifikasi regional yang berlangsung selama bulan Juli. Sebab, laga final dihelat pada bulan Agustus yang mana merupakan periode waktu terbebas dari salju.
Namun, karena banyak lapangan yang tidak mendukung dan memiliki rumput sebagus di Eropa, banyak pemainnya menderita cedera parah. Bahkan ada yang sampai patah kaki, tempurung lutut, hidung, dan lengan sehingga akan lebih mirip dengan pertandingan tinju ketimbang sepakbola.
Hal itu terjadi akibat buruknya kondisi dan fasilitas lapangan. Greenland adalah negara sebesar Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia. Tapi, tidak seperti negara-negara yang terobsesi dengan sepakbola tersebut, karena hanya 20 persen dari tanah Greenland yang layak huni, sisanya hanyalah lapisan es.
Sangat sedikit daerah berumput, selama sembilan bulan dalam setahun tidak mungkin untuk bermain sepakbola karena lapangan tersebut diselimuti oleh salju setinggi dua meter. Oleh karena kondisi cuaca yang menantang, bepergian antar daerah juga seringkali sulit bahkan meski musim panas sekalipun.
Sehingga, untuk mengatur jadwal pertandingan dalam rentang waktu panjang adalah hal yang tidak mungkin terwujud. Namun, masyarakat Greenland tidak membiarkan keadaan menghalangi menikmati sepakbola.
Permainan itu berkembang pesat di negara ini, hingga kini masih menjadi olahraga paling populer dengan sekitar 5.000 pemain sepakbola terdata di Greenland, angka ini adalah 10 persen dari total seluruh populasi.
Pertandingan dapat dilangsungkan di sebuah pulau. Di mana gunung es terlihat di kejauhan dan paus akan terlihat sesekali muncul di permukaan laut. Qeqertarsuaq di Pulau Disko sebagai tempat favorit untuk Grønlandsbanken Final 6 (nama kompetisi di negara tersebut).
Ada hal miris juga yaitu sebelum 2016, kejuaraan dimainkan di atas pasir dan batu. Itu membuat para fisioterapis sibuk karena para pemain selalu terluka. Oleh karena itu, Federasi Sepakbola Greenland bukan bagian dari FIFA atau konfederasi kontinental lainnya karena tidak memenuhi sejumlah aspek yang ditentukan oleh regulasi. [dan/tur]






