Surabaya (beritajatim.com) – Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan dan inovasi sumber daya manusia (SDM) di bidang penerbangan. Salah satunya dengan rutin menggelar Seminar Nasional Inovasi Teknologi Penerbangan (SNITP).
Gelaran SNITP ke-5 kali ini bertema ‘Peningkatan Kualitas Pendidikan Dan Inovasi Dalam Rangka Percepatan Recovery Dunia Penerbangan’ dengan menghadirkan para narasumber yang expert di bidangnya. Mulai dari pihak PT Dirgantara Indonesia dan Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof Mohammad Nuh.
Acara dibuka oleh Plt Kepala BPSDMP Kementerian Perhubungan Capt Antoni Arif Priadi, dilanjutkan oleh Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Heri Sudarmaji melalui virtual. Kemudian dilakukan pemukulan gong tanda dibukanya acara oleh Direktur Poltekbang Surabaya M Andra Aditiyawarman di Gedung Serbaguna Poltekbang Surabaya, Jalan Jemur Andayani Surabaya, Rabu (27/10/2021).
“Tema seminar nasional ini sangat relevan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan inovasi dunia penerbangan guna meningkatkan keselamatan dan transportasi khususnya transportasi udara. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan, kami melaksanakan berbagai jenis pendidikan, baik formal maupun non formal, maupun yang bersifat soft skill dan hard skill. Atas dasar itu kami mendukung pelaksanaan SNITP ini agar muncul ide-ide segar dari kaum milenial untuk berinovasi lebih baik lagi,” ujar Plt Kepala BPSDMP Kementerian Perhubungan Capt Antoni Arif Priadi.
Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Heri Sudarmaji mengapresiasi acara seminar ini. Menurutnya kegiatan ilmiah seperti SNITP perlu dilaksanakan rutin untuk terus mengupgrade keilmuan para civitas akademika. Sebab kualitas sumber daya manusia tidak lepas dari kualitas institusi pendidikannya dan kualitas pengajarnya.
“Kepada segenap civitas akademika, dosen dan semua peserta SNITP kami berpesan agar selalu berperan aktif dalam usaha meningkatkan kompetensi diri melalui seminar, pelatihan, konferensi ilmiah dan penulisan karya tulis ilmiah yang dipublikasikan secara nasional dan internasional,” kata Heri.
Dalam materi SNITP dibahas pengetahuan terkait kebutuhan dalam dunia penerbangan, hingga cara-cara membangkitkan inovasi dalam dunia pendidikan. Seperti yang disampaikan Kepala Divisi Pusat Uji Terbang Chief Flight Engineer PT Dirgantara Indonesia Yustinus Kuswardana. Diungkapkan bahwa dalam industri penerbangan pihaknya sangat membutuhkan SDM yang unggul di bidangnya sehingga bisa menguasai teknologi pesawat agar tercipta produk-produk pesawat dalam negeri yang berkualitas. Hal lainnya, yaitu ditemui permasalahan teknis bahan baku atau komponen perakitan pesawat yang masih susah didapqtkan di dalam negeri.
“Kami masih banyak menemui SDM yang belum standar dengan selalu mengikuti perkembangan teknologi. Apalagi untuk beberapa bagian pesawat yang kita butuhkan juga masih susah mendapatkan di dalam negeri. Untuk mengupayakan hal itu, PT DI (Dirgantara Indonesia) terus menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah penerbangan dibawah Kemenhub. Dan ke depan PT DI akan terus berinovasi untuk bisa menciptakan rakitan-rakita pesawat baru yang memang sesuaidengan medan di Indonesia,“ jelas dia.
Sementara, pembicara lainnya yaitu Prof M Nuh juga memberikan gambaran terkait cara-cara berinovasi dalam dunia pendidikan. Ia menegaskan bahwa esensi dari pendidikan itu adalah belajar. Belajar untuk mengetahui sesuatu, how to know. Kemudian bagaiman caranya bisa melakukan sesuatu, how to do. Lalu, learn how to be, bagaimana supaya bisa memiliki profesi tertentu.
“Tetapi itu saja ndak cukup, ada namanya learn how to live together. Gimana caranya kita belajar supaya bisa hidup bersama-sama dengan yang lain. Di dalam desain ilmu pengetahaun tentang pendidikan ada yang namanya body of knowledge and body of profession. Yang namanya learn how to know komponen utama di dalam body of knowledge dan learn how to be komponen utama di body of profession. Antara pengetahuan dan profesi dijembatani dengan learn how to do dan learn how to live together,” kata profesor kelahiran Surabaya ini.
Karenanya, ia berpesan untuk para civitas akademika berhati-hati betul dalam mendesain kurikulum maupun sistem pendidikan. “Jangan sampai kita terjebak dalam hal yang difatnya praksis-praksis semata. Tidak sama antara education and training. Oleh karena itu kuncinya learn how to learn. Belajar agar bisa senantiasa terus belajar,” pesan Prof Nuh.
Pihaknya mendorong agar semuanya mulai dari sistem hingga SDM dalam lembaga pendidikan melakukan inovasi dan berubah. Untuk bisa berubah juga harus mengikuti perkembangan teknologi yang terus melaju pesat melampaui pemikiran manusia.
“Maka yang diperlukan adalah imajinasi, berpikir kritis ditambah dan sebagianya. Dari sini akan muncul kreatifitas, muncul inovasi, ditambah enterpreneurship disini akan ada hadil yang luar biasa. Dan yang perlu diingat inovasi harus berdasar data. Mari kita awarness data, jika sudah sesuai akan terjadi suatu lompatan luar biasa. Dari dari linier akan menjadi eksponensial. Bangsa ini memerlukan terobosan-terobosan yang sifatnya general,” cetusnya.
Hal lainnya, Prof Nuh juga meyakini bahwa kejayaan Indonesia 2045 akan nyata terjadi, sebab adanya modal yang selama ini belum didapqta oleh Indonesia. Yaitu modal bonus demografi, modal bonus digital dan nilai ke-Indonesiaan.
“Kita harus siapkan, songsong dan mengembangkan hal itu. Termasuk dalam bidang pendidikan yang perlu disiapkan. Covid-19 ini memberikan banyak pelajaran, seperti penerapan belajar dari rumah, bukan di rumah. Ada sumber pelajaran dari rumah ke dunia cyber. Tentu harus ada infrastruktur digital ke semua pelosok Indonesia. Kalau itu tidak ada maka jurang kemiskinan akan semakin lebar antara masyarakat di kota dan di pelosok-pelosok desa,” imbuh Prof Nuh.
Pihaknya juga menyebut di dunia pendidikan perguruan tinggi jika tidak disesuaikan, maka akan ada kehilangan dunia pembelajaran. Ada stunting study, kesemuan study. “Ini yang saya harapkan di Poltekbang Surabaya melakukan recovery atau mitigasi akademik. Adanya tanda-tanda Covid-19 sudah melanadai, maka harus kita mulai tentang mitigasi akademik besar-besaran untuk menutup defisit study saat Covid-19 kemarin,” pesannya.
Ditambahkan Direktur Poltekbang Surabaya M Andra Aditiyawarman, dalam rangka menghadirkan SDM berkualitas pihaknya berkomitmen melakukan berbagai inovasi. “Termasuk kuat dan siap melalui situasi seperti sekarang ini. Kalau kata Prof M Nuh ada mistery zone yang selalu tidak berjalan seimbang antara kognitif thinking dan hal-hal yang berhubungan teknologi sehingga ini yang perlu dicari solusinya melalui riset perguruan tinggi supaya kesenjangan tidak terlalu jauh. Mudah-mudahan mimpi kita memiliki SDM yang tangguh yang bisa mewujudkan cita-cita kita menjadi negara yang maju mampu memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara ini,” papar Andra.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unair”]
Dalam penerapan jangka pendek, di bawah kepemimpinannya sebagai Direktur Poltekbang Surabaya akan segera merumuskan dan menyesuaikan kurikulum dan model silabus pengajaran sesuai situasional dan kebutuhan saat ini.
“Kita sedang mengembangkan pembelajaran berbasis augmented reality, juga didorong melakukan percepatan juga virtual reality dalam penggunaan media pembelajaran yang berbasis IT. Sehingga adanya hal tersebut bisa menambal kekhawatiran akibat berkurangnya daya serap taruna/taruni terkait pembelajaran yang biasa disampaikan melalui pembelajaran tatap muka,” tegas Andra.
Untuk ke depannya, Poltekbang Surabaya juga akan memperluas gelaran SNITP hingga tingkat internasional. Dengan mengundang pembicara asal luar negeri yang sudah punya banyak pengalaman di dunia penerbangan internasional. Acara ini diikuti oleh ratusan peserta taruna/taruni Poltekbang Surabaya serta undangan dari berbagai sekolah tinggi penerbangan se-Indonesia dibawah naungan Kemenhub yang juga ikut acara secara virtual. [but]








