Gresik (beritajatim.com) – Industri di Gresik patut berbangga. Pasalnya, cangkul Indonesia buatan dari daerah tersebut telah berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI), dan siap dipasarkan. Keberadaan cangkul yang diproduksi di Gresik tidak kalah dengan cangkul impor.
Plt Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementrian Industri, Reni Yanita menuturkan, dengan adanya label SNI berfungsi memberikan perlindungan serta jaminan kualitas pada konsumen serta keamanan dan keselamatan.
“Label SNI merupakan instrumen dalam rangka strategi nasional penggunaan produk dalam negeri serta subtitusi impor yang di tahun 2022 bisa mencapai 35 persen. Angka tersebut sekaligus sebagai pemulihan ekonomi nasional bagi industri,” tuturnya, Selasa (26/10/2021).
Masih menurut Reni Yanita, untuk menerapkan produk SNI. Pihaknya, mendukung PT Indobaja Primamurni perusahaan asal Gresik yang memproduksi cangkul tipe A merek cangkul barong, dan PT Mekarmaju Jaya Abadi yang memproduksi cangkul tipe B.
“Kedua perusahaan tersebut telah membuktikan kualitas produknya dengan memenuhi persyaratan teknis produk sesuai SNI 0331:2018 (Cangkul-Syarat Mutudan Metode Uji),” paparnya.
Sebelumnya kata Reni Yanita, Ditjen IKMA Kementrian Perindustrian telah menyelenggarakan beragam pembinaan khususnya di Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung sejak tahun 2018, guna mendukung daya saing industri kecil dan menengah (IKM) berupa perkakas tangan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”cangkul-gresik”]
“Kami memberikan fasilitasi secara bertahap mulai dari pendampingan penerapan SNI. Fasilitas tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Kemitraan, inisiasi pendirian material center dan sertifikasi SNI,” katanya.
Pendampingan sertifikasi SNI Cangkul di Desa Mekarmaju turut melibatkan Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) sebagai LSPro, dan tenaga ahli dari PT Indobaja Primamurni sebagai pendamping dalam melakukan sertifikasi sampai dengan terbitnya Sertifikat Kesesuaian.
Dengan nilai TKDN dari cangkul produk PT. Indobaja Primamurni dan PT. Mekarmaju Jaya Abadi yang masing-masing sudah mencapai 58,19 persen dan 51,96 perse. Reni berharap agar kedua cangkul segera masuk ke e-katalog dan banyak masyarakat semakin percaya dan membeli perkakas buatan Indonesia.
“Cangkul kualitas kelas tipe A, kami yang pertama di Indonesia. Dengan kelebihan, bahan baku sudah sesuai SNI. Di mana untuk cangkul kelas tipe A ini, memiliki kekerasan 41 HRC (satuan kekerasan). Ini lebih bagus dari kualitas produk impor,” ujar General Manager PT Indobaja Primamurni Titus Ridi Yuwono.
Diakui Titus, dirinya mendapat bocoran dari Kemenperin, bila kebutuhan pasar dalam negeri akan cangkul sekitar 2,5 juta unit per tahun. Dengan selama ini, kebanyakan dipenuhi produk impor dari China dan Thailand. Untuk itu, perusahaanya bersiap mengambil ceruk tersebut dan bersaing dengan produk asing.
“Selain kualitas yang kami jamin di atas produk impor, harga yang kami tawarkan kepada distributor juga bersaing, tidak kalah dengan cangkul impor,” pungkasnya. (dny/ted)






