Ponorogo (beritajatim.com) – Untuk menunjang kekurangan pupuk kimia, para petani biasanya mengakalinya dengan pupuk organik cair. Selain juga bermanfaat untuk menyuburkan tanaman, penggunaan pupuk organik cair juga menghemat pengeluaran.
Di Kabupaten Ponorogo, ada warga yang memanfaatkan urine hewan untuk dijadikan pupuk organik cair. Adalah Fendi Sukatmanto, warga Kelurahan Pusbosuman Ponorogo itu mengubah urine kelinci menjadi pupuk organik cair. Yakni dengan cara mengolahnya atau proses fermentasi. Alhasil, puluk organik cair hasil buatannya dari urine kelinci ini, selain dipakai sendiri juga dijual ke petani. “Pupuk organik cair dari urine kelinci ini bisa digunakan untuk menyiasati mahalnya harga pupuk kimia,” kata Fendi, Kamis (21/10/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pupuk”]
Pupuk organik cair dari urine kelinci ini, dipercaya lebih cepat merangsang pertumbuhan tanaman. Sebab, dalam urine tersebut terdapat banyak unsur hara dan juga memiliki nitrogen yang tinggi. Diman itu semua yang dibutuhkan dalam merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman. “Penggunaan pupuk organik cair dari urine ini sangat baik untuk tanaman sayur, holtikultura, dan tanaman keras seperti pepohonan dan buah-buahan,” ungkap pria yang tahun ini berusia 50 tahun itu.
Fendi mengaku sudah bergelut dengan urine kelinci ini sejak tahun 2012 lalu. Selain dari ternak kelinci sendiri, Ia mendapatkan urine kelinci dari peternak di Ponorogo. Selain digunakan sendiri, pupuk organik cair dari urine kelinci juga dijual ke petani. Harga yang dipatok pun bervariasi. Untuk harga paling murah, urine tanpa pengolahan atau proses fermentasi dihargai Rp 3 ribu per liter. Sedangkan urine kelinci yang sudah melalui proses fermentasi dan menjadi pupuk organik cair ditaksir seharga Rp 20 ribu per liternya. “Alhamdulillah setiap bulannya selalu ada pemesanan untun pupuk organik cair dari urine kelinci ini,” pungkasnya. (end/kun)






