Surabaya (beritajatim.com) – Ada pemandangan unik setahun belakangan di Kota Surabaya. Beberapa titik tempat di trotoar jalan menjadi salah satu sasaran untuk membuka lapak jasa pijat, salah satunya di Jalan Banyu Urip.
Jika anda melintas jalan Banyu Urip menuju arah Tandes, Sememi, dan Benowo, akan terlihat di sepanjang trotoar sekitar 10 lapak jasa pijat berbekal terpal dan karpet berjejer untuk memberikan jasa pelayanan pijat tradisional. Mereka akan memulai membuka lapak sekitar pukul 22.00 WIB hingga 04.00 WIB.
Thoriq (44) salah satu pelapak menjelaskan bahwa ia telah menjadi tukang pijat sejak tahun 2009 silam. Ia menjadi tukang pijat karena sudah tidak ada perusahaan yang mau menerima ia untuk bekerja pasca dipecat saat menjadi sales.
“Alasannya gak bisa saya ceritakan mas, pokoknya semenjak itu saya belajar pijat untuk menghidupi anak istri saya. Karena hidup kan terus berjalan,” Ujar bapak dengan 3 anak tersebut.
Ia menceritakan bahwa ia sempat menjadi tukang pijat keliling hingga akhirnya membuka lapak di trotoar Jalan Banyu Urip.

“Sempat buka lapak di stasiun Wonokromo 10 tahun terus setahun di krian baru kesini mas diajak teman saya lapak sebelah itu. Saya pindah dari stasiun karena persaingannya ndak sehat mas,” Ujarnya saat di wawancara beritajatim pada Jumat (8/10/2021) dini hari.
Metode pijatnya pun unik, ia menggunakan botol kaca bekas minuman jamu pereda rasa nyeri saat haid. Selain itu jika anda memesan kerokan, ia tidak akan menggunakan koin tetapi menggunakan sutil masak untuk mengeroki pasiennya. Dengan metode uniknya tersebut dirinya mematok harga 80 ribu per 90 menit. Dengan tarif tersebut ia mampu mengantongi sekitar 2-3 juta per bulan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”surabaya”]
Kepada beritajatim, ia juga menceritakan bagaimana suka duka memijat di jalan trotoar dengan berbekal terpal dan banner bekas pemilihan calon legislatif. Ia sempat ketiduran dan harus merelakan tas beserta dompetnya hilang diambil orang.
“Kemarin sempet ketiduran lalu bangun tasnya hilang. Ya sedih, sudah sepi kemarin cuman pijet satu trus hilang juga. Cuman ya sudah kan Allah ndak mungkin membiarkan saya dan anak saya kelaparan,” Ujarnya sambil memijat.
Para pelapak akan segera pulang ketika adzan subuh sudah berkumandang. Ketika menunggu pasien untuk di pijat, mereka biasanya tidur, berdzikir ataupun memilih bertamu ke lapak sebelahnya. [ang/but]







