Bojonegoro (beritajatim.com) – Sekitar 30 relawan dari unsur pelajar, mahasiswa dan umum melakukan penyisiran bantaran Sungai Bengawan Solo dari Kabupaten Blora hingga ke Kabupaten Bojonegoro. Penyisiran dilakukan untuk identifikasi dan pembersihan sampah plastik yang menyangkut di pohon bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.
Banyaknya sampah plastik yang menyangkut di pohon bantaran sungai Bengawan Solo sangat berdampak terhadap pencemaran sungai. Akibatnya sangat berbahaya bagi ekosistem sungai maupun makhluk hidup yang mengkonsumsi. Pembersihan sampah plastik yang menyangkut di pohon sekitar bantaran sungai Bengawan Solo itu diberi nama operasi pohon plastik.
Kegiatan yang dilakukan ecoton, The bodyshop, dan 30 relawan sungai nusantara dari berbagai komunitas lingkungan merupakan gabungan dari Briliant (brigade peduli lingkungan), Brigade Evakuasi Popok, River Warior, mahasiwa dari Unair, UTM, Untag, Uinsa, dan Uinma itu menemukan sedikitnya dalam satu titik 10 lebih pohon/bambu yang terlilit plastik. Kegiatan itu serentak dilakukan, Kamis (7/10/2021).
Koordinator Operasi Plastik, Muhammad Kholid Basyaiban mengatakan, Ecoton dan relawan sungai nusantara melakukan kegiatan brand audit dan berhasil mengidentivikasi sebanyak 170 lebih bungkus makanan, sabun, popok, styrofoam, kresek dan kemasan plastik sekali pakai lainnya. Dari hasil bersih-bersih sampah plastik tersebut sedikitnya para relawan berhasil mengumpulkan sekitar 10 karung.
“Kemasan dan sachet tersebut berasal dari berbagai produsen terkenal seperti wings, unilever, indofood, mayora, siantar top dan lain-lain,” ujarnya yang juga melakukan operasi pohon plastik di Desa Cangakan Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro.
Menurutnya, sampah tersebut masih banyak tercecer dan menyangkut di pohon yang ada di bantaran Sungai Bengawan Solo. Sementara itu, dia menuturkan, sampah plastik yang tertahan di sejumlah pohon tepatnya di pinggiran Sungai Bengawan Solo mayoritas didominasi tas kresek.
Ia memperkirakan, setidaknya 60 persen merupakan jenis kresek tidak bermerek atau kresek warna warni. Sedangkan 40 persen sampah plastik bermerek dari kemasan dan sachet. Sampah bermerek yang kerap ditemui merupakan jenis packaging sabun cuci, pencuci piring, mie instan, pakan ternak. “Lalu, ada pula sachet makanan, minuman, bungkus snack dan botol minuman,” terangnya.
Untuk itu, menurutnya, perlu upaya clean up pohon plastik di sungai bengawan solo untuk mengurangi sampah-sampah plastik di pohon dan mengurangi polusi plastik yang berguna menjaga kualitas air sungai. Karena, lanjut dia, sungai bengawan solo 80 persen airnya menjadi suplai air baku PDAM.
Lebih lanjut alummi Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura ini menyatakan bahwa tujuan kegiatan Oprasi Bersih-bersih Pohon Plastik ini untuk membersihkan ratusan bahkan ribuan pohon yang terlilit plastik di bantaran sungai yang memiliki panjang krang lebih 640 km dan menjadi sungai terpanjang di Pulau Jawa. Dengan begitu diharapkan polusi plastik yang menjadi cikalbakal mikroplastik dapat diminimalisir keberadaannya.
Salah satu relawan mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Untag Surabaya, Dio Prasetyo mengatakan, sungai bengawan solo merupakan salah satu 15 sungai yang menjadi prioritas pemulihan lingkungan. “Harapannya setelah kegiatan ini, masyarakat akan sadar dan mengubah prilakunya untuk tidak membuang sampahnya ke sungai khususnya sampah plastik. Selain itu, pemerintah juga mau bertindak untuk mengatasi permasalahan tata kelola sampah yang sangat buruk, terutama masalah sampah di sungai,” jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pencemaran”]
Dio juga menjelaskan bahwa perlu adanaya tindakan pemerintah untuk mengawasi dan melakukan penegakan hukum bagi pelaku pembuang sampah di sungai, selain itu pemerintah juga harus menyediakan tempat sampah di sepanjang aliran sungai dan menerapkan kebiasaan memilah sampah dari rumah di setiap daerah. Khususnya daerah di bantaran Sungai bengawan solo.
“Selain menyediakan fasilitas, pemerintah daerah yang ada di sepanjang sungai bengawan solo juga diharapkan menerbitkan Perda terkait pembatasan plastik sekali pakai untuk mengurangi sampah plastik terutama di sungai,” tegasnya.
Sekadar diketahui, dalam kegiatan bersih-bersih pohon di bengawan solo tersebut juga melakukan kampanye melalui poster #Stopmakanplastik, untuk mengingatkan masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengingatkan untuk tidak membuang sampahnya ke sungai. “Saat ini Indonesia menjadi penyumbang 3,2 juta ton/tahun sampah plastik ke lautan lewat sungai,” tambah Mahasiswa Untag Surabaya, Nurul. [lus/but]






