Surabaya (beritajatim.com) – Dalam sebuah pertandingan adalah hal wajar ketika ada pemain yang mendapat kartu merah. Bahkan sesekali ada lebih dari satu kartu merah yang keluar di satu pertandingan. Namun, dua kartu merah yang diberikan pada dua pemain Portugal kala melawan Korea Selatan di Piala Dunia 2002 adalah perkara lain.
Piala Dunia yang digelar di Jepang dan Korea Selatan ini menjadi gelaran paling kontroversial. Dan Korea Selatan, yang berhsil melaju sampai semi final menjadi sorotan utama. Satu grup bersama Amerika Serikat, Portugal, dan Polandia, Korsel berhasil menjadi pemuncak klasemen dari hasil dua menang dan satu kali imbang.
Kemenangan mereka atas Portugal adalah awal kontroversi. Di pertandingan yang berakhir 1-0 tersebut, dua pemain Portugal mendapat kartu merah. Pertandingan tersebut merupakan partai hidup-mati. Sebab, jika Portugal menang, mereka akan mendapat 6 poin dan lolos ke 16 besar, dan Korsel belum tentu bisa lolos karena memiliki poin yang sama dengan Amerika Serikat.
Korsel kembali menjadi perhatian ketika melawan Italia di babak 16 besar. Melawan Itali, Korsel langsung mendapat hadiah pinaldi di menit 4. Namun, eksekusinya berhasil digagalkan Buffon. Kartu merah juga kembali dikeluarkan wasit di laga ini. Kali ini diberikan pada Totti di babak perpanjangan waktu. Pangeran Roma ini dinilai melakukan diving dan mendapat kartu kuning kedua.
Banyak keputusan kontroversial di pertandingan ini. Pemain korsel yang bermain kasar tidak satupun diberikan kartu merah. Bahkan, tindakan kasar seperti menekel Zambrotta dengan dua kaki pun lolos dari pelanggaran. Keputusan wasit menganulir gol Damiano Tommasi menjadi kontroversi lain. Bermain melawan 10 pemain, Korsel akhirnya bisa mencetak gol kemenangan dan menutup laga dengan skor 2-1.
Di perempat final melawan Spanyol, hasil pertandingan diputuskan 0-0. Padahal, Ivan Helguera dan Fernando Morientes sempat mencetak gol untuk Spanyol, namun dianulir oleh wasit. Korsel menang melalui adi pinalti. Kontroversi demi kontroversi di pertandingan Korsel ini pun kemudian berujung pada terjadinya penyelidikan dengan dugaan pengaturan skor.
Usai terus dilakukan penyelidikan, sekitar tahun 2015 belasan pejabat FIFA akhirnya ditangkap Kejaksaan Agung Amerika Serikat dan anggota FBI dengan tuduhan pencucian uang, pengaturan skor dan pemerasan. Kejaksaan Agung Amerika Serikat saat itu menyelidiki adanya dugaan pengaturan skor di Piala Dunia 2002.
Tersangka dan juga tokoh utama dalam skandal ini yaitu mantan wakil presiden FIFA, Jack Warner. Warner jadi tersangka utama karena telah menginstruksikan wasit asal Mesir, Gamal Al Ghandour yang memimpin pertandingan Korea Selatan melawan Spanyol, untuk mempermudah sang tuan rumah lolos ke babak selanjutnya.
Jack Warner juga terbukti telah lakukan pengaturan pertandingan Portugal melawan Korea Selatan di babak penyisihan grup. Dia memberi instruksi kepada wasit yang memimpin pertandingan, Angel Sanchez, untuk mengatur skor. Semua kontroversi Piala Dunia 2002 berpuncak pada laga saat Warner memerintahkan wasit Byron Moreno untuk memenangkan pertandingan Korea Selatan melawan Italia. [dan/tur]






