Surabaya (beritajatim.com) – Belanja baju bekas kini menjadi trend yang sedang ramai dilakukan oleh banyak orang. Tiba-tiba saja, masyarakat dari berbagai kalangan memilih untuk belanja baju bekas, atau dengan istilah bekennya, thrift shopping. Melihat peluang yang besar, banyak orang pun memanfaatkan momen ini sebagai ladang penghasil cuan. Yakni dengan membuka usaha thrift shop atau secondhand store, atau toko baju bekas, namun secara online.
Pakaian yang dijual pun beragam, ada pakaian model kuno yang bisa membuat gaya bak tahun 90-an, pakaian biasa, dan baju baju langka yang berlabel vintage. Biasanya untuk baju degan tag vintage sendiri, harganya akan jauh lebih tinggj karena dianggap sulit untuk dicari lagi. Lalu, sebenarnya apa sih makna dari istilah thrift shop dan sejarahnya? Mari kita bahas bersama-sama.
Kata thrift sendiri, artinya adalah penghematan. Ia tidak hanya merujuk pada pakaian, tapi juga barang-barang seperti alat elektronik, alat rumah tangga, dan lain-lain. Perkakas yang masih apik namun tidak terpakai itu memiliki nilai tersendiri bagi para penggemar thrifting.
Siapa yang tidak tergoda, jika tetap bisa tampil fashionable namun dengan harga yang terjangkau? Lagipula, thrifting sendiri merupakan upaya untuk mengurangi fast fashion, yang dikenal problematic.
Sedikit kita ulas tentang awal mula thrifting. Kegiatan ini dimulai pada akhir abad ke-19, saat harga pakaian baru yang sangat murah membuat masyarakat menerapkan budaya konsumtif. Pakaian dianggap sebagai barang yang satu kali pakai saja bisa dibuang, sehingga hasil buangan tersebut akhirnya menggunung.
Ide awal untuk mengumpulkan barang layak tak terpakai ini berasa dari komunitas Gereja Protestan, Salvation Army. Mereka berinisiatif untuk menyumbang pakaian-pakaian pada siapapun yang membutuhkan. Thrifting akhirnya menjadi sebuah budaya, dan lambat laun, berubah menjadi bisnis yang menguntungkan banyak orang.
Online shop yang menjual barang-barang bekas juga kian menjamur. Jika dahulu orang merasa malu jika menggunakan barang bekas, namun kini itu telah menjadi tren.
Tetapi, rupanya, harga barang bekas ini telah meninggi. Para penjual mengatakan harga tersebut sesuai dengan jerih payah untuk mensortir, hingga proses laundry baju. Pro kontra pun terjadi, banyak yang merasa bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan makna thrift yang berarti penghematan.
Sekarang, satu atasan bekas saja bisa dihargai hingga Rp 120 ribu, yang mana orang bisa mendapatkan baju baru dengan harga seperti itu. Meskipun begitu, tren ini rupanya masih terus berlanjut dan masih akan diminati. Melihat ketertarikan seseorang akan fashion yang unik juga semakin tinggi.(mnd/tur)






