Surabaya (beritajatim.com) – Selamatan desa, atau biasa orang Situbondo menyebut dengan khadisah adalah perhelatan yang ditujukan sebagai hari lahir sebuah desa. Salah satu budaya yang masih sering dilakukan hingga saat ini adalah ritual Ojung.
Jika di daerah lain ojung lebih dikenal sebagai ritual untuk meminta hujan. Namun, di Desa Bugeman kecamatan Kendit, Situbondo lebih dari itu. Masyarakat desa Bugeman telah melangsungkan budaya ojung secara turun temurun sebagai kewajiban ritual setiap selamatan desa. Masyarakat percaya jika ritual ini tidak dilaksanakan, desa ini diyakini akan mengalami banyak bencana.
Tradisi ojung ini dilaksanakan guna menghindari bencana atau penolak bala. Selain itu, juga sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi ini sudah menjadi suatu keharusan yang harus dilaksanakan oleh kepala desa dalam rangka khadisah. Ojung juga menjadi ritual agar desa terhindar dari pertikaian, kedatangan berbagai macam penyakit, hewan ternak mengalami kematian serta hasil pertanian yang menurun, atau gagal panen di kebun. Oleh karena itu masyarakat Desa Bugeman tidak berani meninggalkan tradisi Ojung.
Alat-alat yang digunakan pada tradisi Ojung meliputi: rotan yang telah dipersiapkan khusus oleh panitia penyelenggara, pakaian yang hanya diwajibkan memakai sarung dengan kopiah, dan alat musik yang dimainkan untuk mengiringi pemain dalam melaksanakan tradisi ojung. Alat musiknya sendiri terdiri dari gamelan, gendang, dan gong.
Panitia penyelenggara Ojung bukanlah orang sembarangan. Harus ada ketentuan, yaitu ditunjuk langsung oleh kepala desa setempat. Pembuat sesajen pun ditunjuk oleh kepada desa, yaitu orang yang dipercaya dalam proses pencarian bunga atau kembang seribu macam. Menariknya, pembuat sesajen dan orang yang mencari bunga adalah orang yang sama dan hanya boleh dilakukan oleh 1 orang.
Sesajen harus disiapkan dan dikerjakan segala prosesnya satu bulan sebelum acara Ojung dihelat. Aturan dalam aksi kesenian ojung ini tiap pemain memiliki jatah memukul dan menangkis masing-masing tiga kali.
Ojung digelar sebagai lomba dengan ketentuan para petarung unjuk kebolehan memainkan senjata rotan untuk mencambuk badan lawan. Dalam lomba ini, setiap petarung diberi kesempatan tiga kali untuk mencambuk badan lawan secara bergantian. Saat bersamaan petarung satunya juga harus pintar menangkis cambukan lawan juga dengan rotan. Cambukan yang paling banyak mengenai badan, akan menjadi pemenang. [dan/esd]






