Surabaya (beritajatim.com) – Secara umum dalam pertemanan biasanya kita lebih suka berdekatan dengan seseorang atau kelompok yang memiliki kesamaan. Maka seringkali kita melihat pria akan bermain dengan pria, begitu sebaliknya wanita akan bermain dengan wanita.
Namun pertanyaannya adalah bisakah pria dan wanita menjadi teman biasa? Mungkin ada berbagai pendapat yang menyebutkan bisa, tapi tidak sedikit yang menentang hal ini. Hubungan sosial memang sering tidak memiliki jawaban pasti.
Kita sering menyaksikan di film atau sinetron dua orang berlawanan jenis menjalin pertemanan yang erat dan saling mendukung. Mereka punya pasangan masing-masing dan tetap menjadi teman yang baik. Namun, hal sebaliknya juga sering kita temui. Ketika dua ornag teman kemudian saling menyukai bahkan menikah. Bahkan, terjadi di dunia nyata.
Juga sering kita temui kasus di dunia peran ataupun lingkungan sekitar. Ketika lelaki dan perempuan yang awalnya berteman, tetapi kemudian berpisah karena adanya perasaan suka atau cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dunia peran dengan penuh imajinasi memang sering menyuguhkan pertemanan ideal. Berpegang pada prinsip pertemanan tanpa ada keinginan untuk menjalin hubungan lebih jauh.
Hal ini yang terkadang membuat kita merasa jika persahabatan lawan jenis tidak mungkin terjadi dan hanya khayalan belaka. Sebagai manusia biologis yang tentu saja punya hormon ketertarikan keadaan ini mungkin terjadi seperti perasaan benih-benih suka dari sang Wanita, sang Pria, ataupun keduanya.
Sebenarnya, kebiasaan ini bisa diterapkan sejak masa kecil dengan memulai masa kanak-kanak yang membuka pertemanan dengan cara mencari kelompok dengan hobi yang sama tanpa membedakan gender sebagai tolok ukur dalam berteman.
Namun saat masuk pada masa puber, hormon pada perempuan dan laki-laki akan muncul rasa ketertarikan terhadap seseorang bahkan orang terdekat seperti teman mereka yang berpotensi sebagai calon yang paling potensial untuk dijadikan pacar.
Tapi jika dibuktikan dengan ilmu sains, sebenarnya persahabatan lawan jenis bisa terwujud. Dari ilmu itu kita belajar jika sahabat yang berbeda gender lebih sering bertemu dan waktu bersama dibandingkan dengan sahabat dengan ketertarikan secara romantis.
Bukan hanya itu, persahabatan beda gender tanpa adanya ketertarikan fisik dan seksual akan jauh lebih awet sehingga dapat dibuktikan jika hubungan pertemanan antara wanita dan pria memang bisa terjadi. (prd/tur)






