Surabaya (beritajatim.com) – Ibu N, guru sebuah sekolah negeri di Bojonegoro, mengaku senang bisa berteman dengan pemilik akun Facebook bernama Khofifah Indar Parawangsa. Ia bahkan sempat disapa oleh si pemilik akun. Dalam bayangannya, ia sedang berdialog via messenger dengan orang nomor satu di Jawa Timur.
Setelah kebahagiaannya mereda, ia mulai sadar. Ada yang janggal dengan akun ini. “Namanya Khofifah Indar Parawangsa, bukan Khofifah Indar Parawansa. Beda di huruf G saja,” akunya kesal.
Rabu (25/8/2021), salah satu awak beritajatim.com juga dapat permintaan pertemanan dari akun ini. Detailnya cukup percaya diri. Bekerja sebagai Gubernur Jawa Timur, menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, dan, ini yang janggal, tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.
Data lain dibiarkan kosong. Mulai dari contact and basic info, family and relationship, details, hingga life events.
Si pemilik akun agaknya sudah menggencarkan request pertemanan ke banyak orang dan berakhir bak bertepuk sebelah tangan. Akibatnya, ia hanya bisa follow lebih dari 100 akun Facebook, tanpa respons menjadi teman.
Di album foto hanya ada dua gambar. Masing-masing berfungsi sebagai foto cover dan foto profil. Keduanya menggunakan gambar Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur.
Menanggapi fenomena ini, Aryo Nugroho, pemerhati sosial media dari Surabaya mengatakan, ini fenomena yang sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Dunia sosial media menawarkan banyak kemudahan, termasuk proses mendaftar dengan identitas apa saja tanpa verifikasi.
“Target itu bisa bermacam-macam. Salah satunya ya upaya untuk mencari keuntungan pribadi,” tegas Aryo. Bisa jadi, kata pengajar di Universitas Narotama, Surabaya ini, orang membuat akun untuk kemudian merugikan pemilik nama asli.
Niat ini nanti bisa dibaca saat si pembuat akun abal-abal membuat post tertentu yang kemudian blunder sehingga merugikan si pemilik nama asli. Kegiatan ini bisa dimaknai sebagai kepentingan politis.
“Kemungkinan lain, akun ini dibuat untuk kemudian dijual. Karena sudah memiliki teman banyak. Entah dijual pada pemilik nama asli, atau ke yang lain. Kan tinggal rename aja,” jelasnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”khofifah-indar-parawansa, facebook”]
Kemungkinan yang lain, dia akan mencari untung dengan mengirim pesan ke teman-teman Facebook-nya. “Dulu kan sering ada kejadian, akun itu minta pulsa, minta dibantu ini-itu, ya targetnya dapat duit,” kata Aryo yang baru saja menyelesaikan jenjang S-3 nya di ITS ini.
Tapi untuk kemungkinan terakhir, jika dikembalikan pada konteks akun abal-abal Gubernur Jatim, rasanya terlalu beresiko.
“Orang juga pasti mikir lah. Masak gubernur minta pulsa. Artinya apakah akun ini akan merugikan atau tidak, melanggar hukum atau tidak, mau tidak mau harus dilihat perkembangannya. Nanti akan ketahuan, maunya apa,” tandas Aryo. [hdl/ted]






