Suara Zaenal Marzuki memecah keheningan ruang paripurna DPRD Jember, Jawa Timur, Senin (16/8/2021). “PMI Jember baru punya satu alat aphresis untuk menyiapkan plasma darah konvalesen yang dibeli secara mandiri dan kredit.”
Ketua Palang Merah Indonesia Kabupaten Jember ini mengemukakan bagaimana lembaganya kewalahan melayani permintaan plasma darah pada masa pandemi. Plasma darah ini dianggap salah satu ikhtiar medis pamungkas untuk menyelamatkan pasien Covid yang berada dalam kondisi serius. Padahal dalam 24 jam, alat aphresis hanya mampu mengolah plasma delapan orang pendonor.
Sementara berdasarkan data dan sarana layanan plasma konvalesen di Unit Donor Darah PMI Kabupaten Jember sejak 3 Juli sampai 17 Agustus 2021, ada 205 orang pendonor darah plasma dengan produksi mencapai 670 kantong. Sementara jumlah pasien terlayani 574 Orang. Jumlah antrean pasien belum terlayani 20 orang. Jumlah antrean calon pendonor atau penyintas 37 orang, jumlah pasien terlayani di luar Jember sebanyak 120 pasien yang meliputi Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Surabaya, dan Pare Kediri.
Kisah PMI Jember bergerak dalam keterbatasan bukan cerita baru pada masa pandemi. Mereka memang sudah terbiasa mandiri. Sebelum satu unit mobil jenazah bantuan PMI Jawa Timur datang, PMI Jember sudah memiliki mobil jenazah hasil modifikasi sendiri. Dua unit ini sudah bisa digunakan untuk jejaring PMI Jember seperti Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, dan Probolinggo.
Medio 2020, saat pandemi baru beranjak awal dan banyak yang tidak tahu harus berbuat apa, dengan jumlah personel yang terbatas, PMI Jember membentuk tim relawan ambulans pengantar jemput jenazah pasien Covid-19. “Saat itu hanya saya yang mengajukan diri,” kata Ghufron Evian Effendi, salah satu personel PMI Jember, Rabu (20/5/2020).
Ghufron kemudian mengajak dua rekannya, Boim dan Andre, untuk melaksanakan pelatihan di Surabaya. “Saya spontan saja, karena saya melihat di pemberitaan, banyak yang melakukan penolakan (terhadap pemakaman Covid-19) dan saya ingin memastikan hak-hak jenazah ,” katanya.
Medio November 2020, mereka sempat kehabisan baju hazard material (hazmat), sehingga menyebabkan tugas tak tertunaikan selama dua hari. Selama ini, pakaian hazmat PMI Jember berasal dari donasi PMI provinsi, dokter, perawat, dan perorangan. Gugus Tugas Pemkab Jember pernah sekali memberikan sumbangan pakaian tersebut.
Sejumlah permintaan pengantaran jenazah terpaksa ditolak karena ketiadaan bahu hazmat ini. Padahal posisi tim ambulans jenazah PMI sangat vital. Mereka sudah melakukan 155 kali pengantaran jenazah dengan protokol Covid dari rumah sakit ke pemakaman sejak 28 April hingga 16 November 2020.
Kerja-kerja sunyi dalam keterbatasan ini tak banyak diketahui publik, hingga kemudian PMI Jember menjadi viral di media sosial karena kena ‘prank’. Semua berawal saat pasangan suami istri berinisial HW dan RH yang mengaku pengusaha tambang di Papua dan memiliki 300 hotel berkelas di berbagai negara menjumpai pengurus PMI Jember, Oktober 2019.
Saat itu, pasangan suami istri tersebut mengaku terkesan dengan terobosan-terobosan PMI Kabupaten Jember dari Ketua PMI Provinsi Jawa Timur Imam Utomo. “Mereka juga membaca inovasi-inovasi PMI Jember dari media massa,” kata Ghufron.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmi-jember”]
Di sanalah kemudian tercetus pernyataan bahwa pasangan suami istri ini akan menyumbangkan dana Rp 16 miliar kepada PMI Jember. Kebetulan PMI Jember tengah menggelar serangkaian kegiatan peringatan Hari Sukarelawan PMI. “Dana itu katanya ditujukan untuk pengembangan organisasi dan rencana pembangunan rumah sakit emergency PMI Jember,” kata Gufron.
Setelah pertemuan itu, Zaenal Marzuki melakukan komunikasi intensif via sambungan telepon dan WhatsApp dengan HW. Menurut Gufron, HW berencana akan menyerahkan bantuan dana Rp 16 miliar secara simbolis kepada pengurus PMI kabupaten Jember dan Rp 200 miliar kepada pengurus PMI Provinsi Jawa saat pembukaan dialog nasional yang menggagas tema Peran Pemerintah Daerah dalam Produktivitas PMI, Jumat (6/12/2019).
“Bahkan Penandatanganan memorandum of understanding dana hibah antara PMI Jember sebagai penerima dan dengan PT. DEC sebagai pemberi bantuan dana dengan disaksikan bupati Jember dan Ketua PMI Jawa Timur Imam Utomo S serta di hadapan peserta delegasi dari berbagai daerah di Pendapa Wahyawibawagraha,” kata Ghufron.
HW dan istrinya juga menjadi tamu istimewa dalam upacara peringatan Hari Sukarelawan PMI tingkat Jawa Timur di alun-alun Jember, Sabtu (7/12/2019). PMI dengan HW masih berkomunikasi aktif hingga Februari 2020. “PMI Jember sempat dimintai gambar bangunan klinik dan rumah sakit, dan sempat dibentuk panitia pembangunan,” kata Ghufron.
Namun bantuan tak juga terealisasi. “Mulai Maret 2020 kami tidak mau terforsir dengan harapan terhadap bantuan itu. Kami terfokus pada program lainnya,” kata Ghufron.
Dan itulah yang memang kemudian mereka lakukan. Alih-alih berharap mendapat kucuran bantuan dari langit, PMI Jember mengukuhkan program Kampung Donor Darah di Desa Karangduren, Kecamatan Balung dan Dusun Kidul Besuk, Desa Ajung, Kecamatan Ajung. “Desa ini rajin menyelenggarakan donor rutin. Masyarakat yang mendonorkan darah juga bertambah terus,” kata Zaenal.
Jalan sunyi ini masih terus ditempuh. Namun pada masa pandemi, tindakan memang terdengar lebih lantang dan justru mengundang simpati. Dari parlemen, tuntutan agar pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap usaha kemanusian PMI mulai disuarakan.
Mashuri Harianto, salah satu anggota pansus DPRD Jember, meminta agar pengadaan alat pemoroses plasma darah bisa dianggarkan dalam Perubahan APBD 2021. “Jangan PMI yang suruh melengkapi alat ini. Pemkab dong. Kasihan PMI,” katanya.
Mashuri mengibaratkan PMI dengan karakter pahlawan super dalam komik. “Ibarat Superman atau salah satu super hero, semua diusahakan semampunya, sampai tidak kuat beli (lalu) berutang. Ini negara apa, kok sampai sebuah lembaga berutang hanya untuk satu alat yang tidak seberapa dibandingkan anggaran yang dipunyai,” katanya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Jember Wiwik Supartiwi mengatakan, masih harus membicarakan usulan tersebut dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Ia tak ingin ada aturan yang ditabrak.
Namun apapun itu, PMI Jember memilih tetap bergerak di tengah keterbatasan. Setidaknya mereka memiliki satu bab tersendiri dalam buku kemanusiaan, dan tak sekadar menjadi catatan kaki. [wir/ted]






