Surabaya (beritajatim.com) – Pernah mendengar tentang duck syndrome atau sindrom bebek? Seperti namanya, penamaan sindrom ini mirip gaya berenang bebek. Apakah maksud dan bahaya yang mengintai jika seseorang terkena duck syndrome?
Istilah duck syndrome pertama kali digunakan oleh Standfoard University untuk menggambarkan kondisi seseorang yang kelihatannya tenang namun mengalami gangguan kecemasan yang hebat. Walaupun tidak diakui secara resmi menjadi penyakit mental, fenomena ini tetap mengkhawatirkan bagi kesehatan psikis seseorang jika terlalu lama dibiarkan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”depresi, psikologi”]
Melansir dari Medicinenet, Kamis (19/8/2021) saat membahas mengenai duck syndrome Standfoard University menggambarkan mahasiswa seperti se-ekor bebek yang berenang di atas air.
Mereka terlihat nampak tenang namun mengayuh dengan cepat agar tidak tenggelam dan tetap berada di atas air. Seperti tuntutan dalam hal akademik, sosial, dan masyarakat serta mendapatkan pendidikan tinggi atau lebih.
Sindrom bebek menjadi salah satu cara munculnya depresi, kecemasan, atau tahap awal dari banyak penyakit mental, biasanya sebagai efek samping akibat stres. Akibatnya, jika tidak segera ditangani secara serius dan tepat depresi dan kecemasan tersebut akan semakin parah.
Efek lain dari sindrom ini adalah merasa bahwa orang lain bernasib lebih baik daripada dirinya sendiri, orang lain sedang mengawasi mereka, atau bahkan merancang situasi untuk menguji keahlian mereka.
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan duck syndrome yakni pengalaman kuliah, termasuk tinggal jauh dari keluarga untuk pertama kalinya, peningkatan yang signifikan dalam tuntutan akademik dan ekstrakurikuler dibandingkan dengan sekolah menengah, serta tekanan sosial yang terkait dengan perkuliahan.
Selain itu, faktor tambahan seorang mahasiswa dapat mengalami duck syndrome saat mereka mengalami tekanan dari media sosial atau melihat teman sebayanya yang sudah lebih dulu sukses dibandingkan dirinya.
Untuk mengobati sindrom ini, jangan lakukan diagnosis sendiri, Anda perlu diskusika bersama psikolog, atas dokter khusus kesehatan mental. Jika tidak segera diobati orang yang menderita sindrom bebek, seperti mereka yang menderita depresi dan kecemasan, berisiko mengalami masalah medis, masalah kesehatan mental lainnya, kecacatan, bahkan kematian dini. [rsf/bjo]






