Lamongan (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 yang belum diketahui berakhir sampai kapan juga membuat relawan tenaga pemulasaran jenazah pasien Covid-19 berjuang ekstra keras dalam menjalankan tugasnya. Kehadiran mereka bak oase di tengah minim dan terkurasnya nakes.
Meski tugas kemanusiaan yang harus mereka jalankan tersebut sangat rentan tertular Covid-19, para relawan pemulasaran tersebut harus siap siaga apabila menerima panggilan untuk mengurus jenazah pasien Covid-19.
Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Kaslam, warga kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan tersebut kerap pulang menjelang subuh, tak jarang pula ia harus bertugas saat hendak tidur malam.
Bersama para relawan lainnya, Kaslam mengungkapkan, bahwa pihaknya telah merawat lebih dari 180 korban Covid-19 selama pandemi. Tugasnya mengurusi jenazah korban Covid-19 mulai dari memandikan, mengkafani dan membungkus jenazah menggunakan plastik, serta memasukkannya ke dalam peti jenazah hingga mengantarkannya ke liang lahat untuk dikebumikan.
“Awalnya dulu sempat takut dan khawatir, tetapi karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab saya, maka saya lawan rasa takut itu dengan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes). Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah tertular,” ungkap Kaslam saat dikonfirmasi wartawan, pada Sabtu (14/8/2021).
Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Kaslam mengaku, ia hanya petugas pemulasaran biasa di salah satu rumah sakit yang berada di Kecamatan Paciran. Namun saat jumlah penderita dan korban Covid mengalami ledakan, hal itu membuat fasilitas kesehatan dan nakes setempat kewalahan, akhirnya tugasnya pun bertambah sehingga ia menyiapkan tim dengan sejumlah peralatan untuk melindungi diri.
Lantaran beban dan tanggung jawab pekerjaannya bertambah jika dibandingkan sebelum pandemi, maka Kaslam harus menggunakan prokes secara ketat. Pasalnya, ia harus menghadapi risiko yang cukup besar terpapar oleh virus.

Apalagi saat muncul virus Corona varian Delta yang lebih berbahaya dan mengakibatkan jumlah kasus positif di berbagai tempat melonjak. Karena itu, ia dan anggota tim lainnya memakai alat pelindung diri (APD) level paling tinggi supaya tidak tertular.
“Kami melawan rasa takut dan khawatir tertular Covid-19 dari jenazah yang kami rawat. Pertama memang kaget dengan banyaknya jenazah yang berjejer dan harus kami urus. Apalagi jumlah jenazahnya sering tak sebanding dengan petugas yang ada. Karena itulah akhirnya saya niati, bagaimanapun juga tugas dan tanggung jawab kami sangat dibutuhkan, demi kemanusiaan,” paparnya.
Pria yang juga ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Paciran ini juga menambahkan, sebagai relawan pemulasaran jenazah Covid-19, ia bersama rekan-rekannya yang lain mempunyai beberapa tugas yang harus dijalankan selama proses penanganan jenazah pasien Covid-19, mulai dari pengambilan jenazah dari kamar rawat, memandikan, mengkafani, memasukkan ke dalam peti, hingga mengantarkan jenazah ke kompleks pemakaman.
Saat kasus Covid-19 mengganas waktu itu, Kaslam mengaku, ia dan rekan-rekannya pernah mengurus lebih dari 7 korban Covid-19 dalam sehari. Tak sekadar menyucikan jenazah dan memakamkannya, Kaslam juga kadang diminta menjadi pendoa oleh keluarga jenazah. Semua itu, lanjut Kaslam, dilakukannya atas dasar rasa kemanusiaan. “Sejak gelombang varian Delta datang, sudah lebih dari 180 jenazah Covid-19 yang sudah kami tangani untuk dirawat dan dimakamkan. Kami sering tugas malam hari hingga subuh baru pulang,” sambungnya.
Sebelum pulang ke rumah dan berkumpul dengan dengan keluarga, Kaslam mengaku ia terlebih dahulu mandi dengan bersih dan benar-benar mensterilkan tubuhnya. Tak jarang juga, ketika ia baru saja pulang, panggilan tugas itu datang dan atas nama kemanusiaan, ia dan tim tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya mengurus jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhir.
Tak hanya itu, Kaslam menambahkan, sewaktu-waktu dirinya mendapat panggilan bertugas dan dimintai bantuan, ia siap sedia untuk menjalankan tugasnya. “Kadang seringkali muncul kekhawatiran pada diri saya saat merawat jenazah, kekhawatiran terbesarnya adalah terpapar virus dari anggota keluarga pengantar jenazah yang belum dapat dipastikan steril dari virus Corona,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”lamongan”]
Dengan tugas dan tanggungjawabnya yang berat serta penuh resiko itu, Kaslam mengharapkan, wabah Covid-19 ini bisa segera berlalu. Lebih lanjut, Kaslam juga berdoa agar ia dan kelurganya bisa terhindar dari virus yang berbahaya dan mematikan tersebut. “Kami berharap selalu diberikan kekuatan dan kesehatan oleh Allah dalam melakukan tugas saat menangani jenazah Covid-19. Dan semoga dihindarkan dari terpapar Covid-19. Semoga pandemi ini cepat berakhir,” harapnya.
Terakhir, Kaslam berpesan kepada masyarakat yang ingin merawat atau mengantar jenazah pasien Covid-19, baik dari keluarga maupun tetangga, untuk tetap jaga jarak, mengenakan masker, dan mengikuti prokes sesuai anjuran.
“Masyarakat agar bersabar dengan proses pemulasaran jenazah yang kami lakukan, karena memang semuamya ada tahapan protokol kesehatan yang harus dilalui,” pungkasnya.[riq/ted]






