Jember (beritajatim.com) – Jumlah kasus beberapa penyakit di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami tren penurunan selama masa pandemi Covid-19. Namun masyarakat diminta tetap waspada terhadap penyakit-penyakit selain Covid.
Berdasarkan data yang diperoleh beritajatim.com, ada 29.079 kasus hepatitis pada 2019, yang berkurang pada 2020 menjadi 23.670 kasus, dan 12.248 kasus hingga Juni 2021. Sementara untuk TBC, ada 4.282 kasus pada 2019, yang turun menjadi 3.191 kasus pada 2020, dan 936 kasus hingga Juni 2021.
Tren serupa juga terjadi pada kasus demam berdarah dengue. Pada 2019, ada 988 kasus, yang turun pada 2020 menjadi 945 kasus, dan 250 kasus hingga Juni 2021.
Dimintai pendapat mengenai penurunan angka kasus tiga penyakit tersebut, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Alfi Yudisianto mengatakan, penurunan bisa terjadi karena jumlah kejadian penyakit itu menurun. “Atau memang orang yang mau periksa, tidak segencar dulu pelacakannya mungkin,” katanya.
Faktor perilaku yang mengikuti protokol kesehatan juga bisa ikut berpengaruh. “Dengan adanya pandemi ini orang jadi berpikir kalau mau periksa. Kedua, dengan adanya pandemi, orang jadi tahu pentingnya 5 M. Dulu kan cuci tangan tidak seheboh sekarang. Dengan adanya cuci tangan dan pakai masker, penyakit-penyakit menular lain bisa saja ikut tercegah, ikut terkendali,” kata Alfi.
“Contoh TBC. Dulu orang kena TBC, disuruh pakai masker sulit sekali. Kalau sekarang karena banyak temannya, dia pakai masker. Kalau dulu orang TBC pakai masker jadi (terlihat) aneh. Padahal dengan pakai masker, dia mencegah penularan ke sekitarnya. Sekarang (pakai masker) lazim, bahkan yang tidak lazim adalah yang tidak pakai masker,” kata Alfi.
Penyakit TBC terkait dengan perilaku dan kultur di masyarakat. “Semakin banyak acara atau kegiatan di suatu lingkungan, TBC semakin cepat menular. Selain itu ada hubungannya dengan gizi,” kata Alfi.
Namun, Alfi meminta masyarakat tetap waspada. “Terutama terhadap penyakit demam berdarah dengue. Pencegahan-pencegahan harus tetap dilakukan. Meskipun kelihatannya angkanya turun, tapi musim peralihan dari kemarau ke hujan, itu kan tetap harus waspada,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-jember”]
Demam berdarah dengue memiliki siklus empat tahunan. Setiap empat tahun sekali angkanya meledak. “Penyakit secara epidemologis ada ritmenya. Seperti hepatitis, kan juga ada ritmenya. Ada kekhasan. Kemungkinan dengan adanya pandemi apakah berpengaruh, masih belum tahu,” kata Alfi.
“Setiap tahun kita harus siap. Kemarin awal pandemi Covid kan nyaris bareng dengan (merebaknya) hepatitis di Jember,” kata Alfi. Berdasarkan berita yang dilansir situs resmi Pemkab Jember, terjadi kenaikan kasus hepatitis sejak September hingga Desember 2019. Pemerintah Kabupaten Jember menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 26 Desember 2019. [wir/but]






