Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menemui warga Jawa Timur yang telah dinyatakan sembuh dari Covid-19 di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya.
Hal ini dilakukan setelah menelusuri secara langsung ketersediaan serta kendala yang berkaitan dengan stok plasma konvalesen di UTD PMI Sidoarjo bersama PMI Jawa Timur.
“Pertama-tama saya mengucapkan selamat dan Alhamdulillah, kita patut bersyukur panjenengan dapat diberikan kesembuhan, tidak lupa terima kasih atas kerja keras rekan-rekan di lapangan RSLI,” kata Emil saat membuka percakapan bersama penyintas Covid-19 di RSLI Surabaya, Senin (5/7/2021).
Dalam percakapan tersebut, Emil juga turut mengajak para penyintas Covid-19 untuk bersedia mendonorkan plasma konvalesen untuk menolong sesama. “Kita punya kesempatan menolong sesama melalui donor plasma darah. Ini merupakan investasi akherat yang luar biasa,” ujar Emil.
“Sekarang kalau diminta untuk donor, nyuwun nopo mboten (mau apa tidak)?” tanya Emil kepada penyintas Covid-19.
Menanggapi pertanyaan tersebut, mereka menjawab bersedia. Pada kesempatan yang sama, Ketua Komunitas Penyintas Ikatan Alumni Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), Edy Sukotjo menjelaskan informasi terkait proses donor plasma konvalesen.
“Sebelum melakukan donor plasma, bapak ibu harus tahu dulu ada yang namanya screening. Kapan bisa donornya adalah 14 hari setelah bapak-ibu sembuh. Dulu bulan Agustus sampai akhir 2020 itu sulit dalam melakukan donor, karena orang yang donor itu, kelulusannya hanya 10 persen,” ujar Edy.
[berita-terkait number=”5″ tag=”donor-plasma”]
Berdasarkan data yang dihimpun PMI Jatim, Edy Purwinarto selaku Sekretaris PMI Jatim menyampaikan bahwa antrean untuk mendapatkan plasma konvalesen meningkat tajam, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo. “Di Surabaya antreannya aja ada sekitar 600-an, dan di Sidoarjo kemarin kita cek ada sekitar 250-an,” jelas Edy Pur.
Penanggungjawab RSLI Surabaya, Laksamana Pertama TNI dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara menyampaikan, bahwa banyak perjuangan dan pengorbanan yang telah dilewati para pasien. “Saya juga ikut bangga bahwa bapak dan ibu dapat melewati masa masa yang sulit, bagaimana harus meninggalkan keluarga, juga yang mencari nafkah harus berhenti bekerja sementara,” ujar dr. Nalendra, sapaan akrabnya.

Berdasarkan data yang dimiliki RSLI, 50 persen pasien yang tertular Covid-19 dan dirawat cenderung mengalami kasus kecemasan, sehingga hal itu juga menjadi perhatian RSLI dalam hal penanganan. “Kita menyelesaikan secara keseluruhan, tidak hanya medis melainkan faktor non-medis seperti psikologisnya, pasien yang datang sudah diukur faktor kecemasannya,” tegasnya.
Penyintas dapat menjadi edukator bagi lingkungannya agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai bahaya Covid-19. “Di RSLI, anda semua diajarkan untuk hidup sehat, menjaga protokol kesehatan, dan saya harapkan anda semua dapat menggalakkan tentang informasi kesehatan. Selain mendonorkan plasma darah konvalesen, bisa menjadi edukator juga,” pungkasnya. [tok/suf]






