Gresik (beritajatim.com) – Penyingkiran beton pembatas jalan di Jalan Raya Manyar Gresik langsung disikapi oleh kalangan legislatif. Terkait dengan ini, Komisi III DPRD Gresik mendatangkan para pihak duduk bersama membahas solusi kemacetan. Baik dari Dinas Perhubungan, Forkopimcam Manyar, perusahaan, dan tokoh masyarakat.
Ketua Komisi III DPRD Gresik Asroin Widyana menuturkan, rrekayasa jalan menjadi solusi jangka pendek yang sudah tepat. Sambil menunggu rencana pelebaran jalan dari pihak BBPJN. “Kejadian tersebut, tentunya ada yang salah dalam penerapan di lapangan,” ujarnya, Jumat (2/07/2021).
Tokoh masyarakat Manyar Kompleks, Abdul Muid Zahid mengatakan, pemasangan jalan membuat lebar jalan menjadi semakin sempit. Dia menjelaskan bahwa lebar jalan dikawasan tersebut rata-rata 7,5 meter. Lalu, ditambah pembatas beton dengan ukuran 50 centimeter.
“Akibatnya tiap ruas setidaknya hanya 3,5 meter. Sudah pasti tidak mampu menampung volume kendaraan, lebih-lebih jika dilewati kendaraan truk besar,” ungkapnya.
Muid mengatakan bahwa setiap harinya, kurang lebih 2000 kendaraan melewati kawasan tersebut. Sehingga, untuk mengurai kemacetan diharapkan ketegasan pihak berwajib terkait aktivitas kendaraan.
“Jam operasional truk khususnya gakian C dan batu bara. Termasuk larangan parkir disepanjang jalan Raya Manyar,” paparnya.
Sementara Kepala Desa Manyar Rejo Yudianto menyatakan rekayasa jalan tersebut merupakan tindak lanjut dari beberapa rapat koordinasi yang telah dilakukan. “Dari kesepakatan hanya 40 persen yang sudah dijalankan,” imbuhnya.
Dampaknya lanjut Yudianto, titik macet juga semakin melebar hingga mengganggu aktivitas warga desa dan perumahan disepanjang kawasan tersebut. “Banyak kendaraan besar masuk ke jalan-jalan desa yang sempit. Dampaknya terjadi cross, kemacetan pun semakin menjadi,” keluhnya.
Yudianto mengakui bahwa pembatas jalan menjadi solusi jangka pendek. “Namun, perlu didukung dengan peningkatan kondisi jalan,” ungkapnya. Misalnya, titik strategis untuk putar balik, penerangan jalan umum termasuk zebra cross. “Penerangan jalan sangat penting, banyak laka tunggal terjadi karena keberadaan pembatas yang tidak didukung penerangan yang memadai,” paparnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perhubungan Nanang Setiawan menyampaikan bahwa kordinasi pemasangan barier tersebut sudah dilakukan, tentunya dengan melibatkan pihak-pihak terkait. “Barier tersebut merupakan solusi jangka pendek mengurangi kemacetan,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gresik”]
Khususnya, titik kemacetan tertinggi yakni saat terjadi cross kendaraan di pintu barat kawasan Maspion Industrial Estate dan wilayah Manyar komplek. “Kunci utama tentu pelebaran jalan, Bapedda sudah mengkaji hal tersebut sejak lima tahun lalu. Bina marga sudah siap mengagarkan pelebaran jalan,” katanya.
Namun imbas pandemi Covid-19 belum berakhir tentu ada beberapa skema anggaran yang harus disusun kembali. “Kami siap menyusun kembali skema anggaran tersebut. sambik duduk bersama Forkopimcam untuk mencari solusi terbaik,” pungkasnya. [dny/but]






