Surabaya (beritajatim.com) – Maraknya pemberitaan laporan dugaan pelecehan seksual oleh JE, salah satu pendiri Sekolah SPI (Selamat Pagi Indonesia), berdampak serius terhadap psikolog para siswa yang saat ini menempuh pendidikan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Andriyanto mengungkapkan, dari 99 siswa yang dilakukan assesmen oleh Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), banyak di antara mengalami stres juga depresi.
Penyebabnya, sambung Andriyanto, sangatlah kompleks. Mulai ketakutan akan sekolah mereka ditutup, juga aksi aksi demo-demo dengan mendatangi sekolah. Padahal, selama mereka belajar di SPI, mereka tidak mengalami kekerasan atau pelecehan seperti halnya yang diisukan selama ini.
“Penyebabnya kompleks, antara lain stress mendengar pemberitaan kasus ini terjadi, ada kekuatiran sekolahnya ditutup, kekuatiran DO, banyaknya demo ke sekolah, kuatir donatur mencabut donasinya, sikap keluarga, Para Guru juga gelisah dan lain-lain,” ungkap Andriyanto, Kamis (1/7/2021).
Himpsi melaporkan, dari 99 siswa yang telah dilakukan Assesmen, 77 persen siswa mengalami stress dan 10 persen lainnya dalam kondisi depresi.
“Dari hasil assesmen, 77 persen anak (siswa) stress, dan bahkan 10 persennya cenderung depresi.”kata Ramlianto.
[berita-terkait number=”4″ tag=”spi”]
DP3AK Provinsi Jatim dan juga DP3AK Kota Batu saat ini fokus dengan penyelamatan psikologi siswa SPI, urusan hukum menurut Andriyanto adalah ranah kepolisian.
Sedangkan Konteks perlindungan anak, menurut Andriyanto, adalah menjaga kondisi lahir batin anak atau siswa SPI.
“Persoalan hukum bukanlah persoalan kita, tetapi pada konteks perlindungan kepada anak atau siswa yang saat ini masih berusia anak-anak ini harus kita lindungi,”tandas Andriyanto. [uci/but]






