Bondowoso (beritajatim.com) – Ahmad Dhafir, Ketua DPRD Bondowoso, Jawa Timur, berharap nama Bondowoso dipakai sebagai nama merk kopi produksi rakyat. Selama ini kopi produksi petani Bondowoso menggunakan nama Ijen-Raung.
“Saya ingin kopi dari Bondowoso membawa nama Bondowoso, agar daerah kami makin dikenal, agar wisatawan tertarik datang dan memberi dampak ekonomi berganda bagi Bondowoso,” kata Dhafir, sebagaimana dilansir Humas Unej, di Kabupayen Jember, Jawa Timur, Rabu (30/6/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”kopi”]
Dhafir meminta Universitas Jember dan PT. Astra Internasional menjadi orang tua asuh yang mampu membantu petani mencari pembeli dan memasarkan langsung kopi Bondowoso tanpa melewati tengkulak. “Bisa membantu pendampingan bagi badan usaha milik desa yang akan mengolah kopi,” katanya.
Dhafir juga mohon perbankan agar mau memberikan kredit lunak bagi petani kopi Bondowoso. Pemasaran dan permodalan memang jadi persoalan petani kopi Bondowoso, bukan budidaya kopi. Setiap kali musim kopi berbunga, pengijon atau tengkulak datang memberikan tawaran untuk membeli.
“Pengijon datang saat tanaman kopi sudah berbunga, dibelinya dengan harga 4 ribu per kilogram saja, padahal empat lima bulan kemudian di saat panen kopi harganya di pasaran sudah mencapai 9 ribu rupiah. Artinya keuntungan pengijon sudah mencapai 40 persen,” kata Dhafir. [wir/suf]






