Mojokerto (beritajatim.com) – Rencana pembangunan jembatan di Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto harus terhenti. Menyusul, jembatan yang menghubungkan Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari dengan Desa Mojotamping, Kecamatan Bangsal ambrol.
Bambu penyangga cor jembatan tergerus derasnya air sungai usai diguyur hujan pada, Kamis (24/6/2021) kemarin malam. ini lantaran, penyangga jembatan dipenuhi tumpukan sampah bambu. Bambu milik warga yang berdekatan dengan bibir sungai hanyut terbawa derasnya aliran air sungai.
Sehingga sampah bambu tersebut menyumbat penyangga jembatan dan mengakibatkan jembatan ambrol. Sejumlah warga di bantu beberapa unsur relawan dilibatkan dalam pembersihan tumpukan sampah akibat bambu penyangga jembatan diterjang sampah bambu yang menyumbat.
Kepala Dusun Mojosongo, Rohman Syafi’i mengatakan, kejadian tersebut berawal dari hujan deras yang menguyur Mojosari dan sekitarnya dua hari lalu. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut mengakibatkan air sungai meluap dan menjebolkan tanaman bambu milik warga di pinggir sungai. Sungai sendiri tidak bisa menampung debit air.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kabupaten-mojokerto”]
“Air sungai membawa tumpukan sampah bambu dan sampai di penyangga jembatan sehingga menumpuk. Akhirnya bambu penyangga jembatan ambrol. Padahal ini masih proses pembangunan, ya terpaksa membersihkan tumpukan sampah yang menyebabkan penyangga jembatan ambrol dulu sebelum melanjutkan pembangunan,” ungkapnya, Sabtu (26/6/2021).

Masih kata Rohman, proses pembangunan jembatan tersebut sudah berjalan sekitar 70 persen. Rencana pembangunan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Desa Pekukuhan tersebut akan kembali dilaksanakan usai tumpukan sampah dapat dibersihkan.
“Kalau bangunannya sudah hampir 70 persen, tinggal ngecor saja. Nanti kita koordinasikan ke desa terkait hal ini. Ya kemungkinan kita bongkar lagi, karena kondisinya sudah miring. Ini proyek jembatan jalan usaha tani, memang dibutuhkan warga yang mayoritas petani untuk menuju ke sawah mereka,” jelasnya.
Menurutnya, jika jembatan tersebut tidak ada maka warga harus berputar ke area persawahan sejauh 1 KM. Akibat penyangga jembatan ambrol karena tergerus air sungai dan sampah bambu, warga dipastikan harus menunggu lagi akses penghubung yang mereka nantikan karena harus diperbaiki lagi.
Salah satu warga, Sadono menambahkan, warga mengharapkan adanya jembatan tersebut karena selain jembatan penghubung antar kecamatan tersebut merupakan salah satu akses warga ke area persawahan. “Kalau ada jembatan ini ya enak, lebih dekat ke sawah,” tegasnya. [tin/ted]






