Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur tak hanya memperhatikan pembangunan infrastruktur atau sektor pembangunan konvensional seperti kesehatan. Industri kreatif menjadi titik perhatian untuk dibangun.
“Ekonomi kita perlahan-lahan digerus pop culture, sehingga kita harus memikirkan bersama-sama. Jadi pelaku sektor ekonomi konvensional migas harus berpikir bagaimana menolong ekononomi kreatif agar survive yang kurang lebih lima persen adalah ekonomi digital,” kata Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, dalam acara Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina yang digelar secara daring, Kamis (24/6/2021).
Ekonomi kreatif di Jawa Timur berkontribusi 9,21 persen terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jawa Timur. “Jatim ini perekonomian nomor dua setelah DKI Jakarta. Seperenam ekonomi Indonesia bersumber dari Jawa Timur. sebanyak 1,5 persen ekonomi Indonesia disumbang pelaku ekonomi di Jawa Timur,” kata Emil.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemprov-jatim”]
Sektor kuliner masih mendominasi ekonomi kreatif, yakni 60 persen. Sekitar 20 persen adalah kriya, 7.5 persen dari fashion. “Ini yang kami pikir bisa didorong, karena seharusnya fashion bisa lebih besar lagi. Memang ada keluhan dari pelaku UMKM, bahwa mereka harus bersaing dengan produk konvensi dari negara luar. Maka kita harus dorong unique demand, mendorong permintaan masyarakat. Baju apa yang digandrungi anak muda tapi punya kekhasan Indonesia, sehingga kita tidak gampang dipenetrasi pesaing terutama dari China,” kata Emil.
Emil menyadari pentingnya kombinasi pemasaran digital dengan produksi konten kreatif di internet. Dalam pemasaran skala lokal, banyak influencer (pemberi pengaruh) mikro yang bisa menjangkau kalangan tersegmentasi. “Sehingga kalau kemudian placement produk dengan menaruh dalam kontennya secara halus, buka hard selling, bisa punya potensi pada segmen pasar yang dibidik,” katanya.
Menurut Emil, sejak tiga tahun lalu, membentuk Content Creator Academy. “Content Creator Academy ini melatih content-content creator untuk bisa menjadi micro infleuncer dan micro PH (Production House),” katanya.
“Jadi jika ada UMKM atau desa wisata yang kita dorong pemasarannya, kita bisa bekerjasama dengan content creator skala kecil. Dijamin biayanya lebih ekonomis dibanding placement di content creator besar. Content creator besar mungkin arahnya lebih pada produk-produk besar,” kata Emil. Pemprov Jatim membentuk tim untuk menyusun modul kurikulum yang diajarkan kepada talenta-talenta. [wir/kun]






