Jember (beritajatim.com) – Saat ini perkembangan keuangan syariah di Kabupaten Jember Jawa Timur tercatat cukup baik. Hal ini ditandai oleh pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah yang meningkat cukup tinggi.
Demikian dikemukakan Pemimpin Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo, dalam pembukaan acara bincang-bincang ekonomi soal optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf, di gedung serbaguna institusi tersebut, Jumat (1/11/2019).
“Pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah di Jember mampu tumbuh sebesar 69,50 persen year on year (September 2019), disertai tingkat non performing financing (NPF) yang relatif kecil sebesar 1,54 persen (September 2019). Sementara itu, porsi pembiayaan perbankan syariah terhadap total penyaluran dana di Jember mencapai 7,90 persen,” kata Hestu.
Sementara itu, menurut Hestu, di wilayah Eks Karesidenan Besuki dan Lumajang, kondisi ekonomi dan keuangan syariah tercatat cukup baik. Ini ditandai dengan pertumbuhan yang positif, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 38,39 persen pada September 2019 disertai tingkat NPF yang relatif kecil sebesar 1,65 persen. “Sementara itu, porsi pembiayaan perbankan syariah terhadap total penyaluran dana di eks Karesidenan Besuki dan Lumajang mencapai 5,56 persen,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”bi”]
Perkembangan positif keuangan syariah ini sebenarnya sejalan dengan suasana kebatinan penduduk Indonesia. Tak hanya dari aspek perbankan, dalam hal potensi zakat, infak, dan sedekah, Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk mendorong perekonomian, pemenuhan kebutuhan domestik akan produk dan halal, serta peluang ekspor produk dan jasa halal. “Ini perlu ditangkap dan dikelola secara bersama oleh seluruh pihak yang berkepentingan,” kata Hestu.
Potensi zakat Indonesia cukup besar dalam setahun mencapai Rp 217 triliun. “Namun demikian, potensi besar penghimpunan zakat belum sejalan dengan realisasi di lapangan. Serapan realisasi penghimpunan zakat Indonesia baru mencapai sekitar 1-2 persen dari potensi zakat tersebut. Artinya bahwa masih terdapat potensi zakat yang sangat besar yang dapat dioptimalkan,” kata Hestu.
“Dapat dibayangkan bahwa, potensi dana zakat sebesar Rp217 triliun bila terkumpul akan sangat membantu dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, mengentaskan kemiskinan, bahkan mendorong Indonesia menjadi pusat keuangan syariah dunia,” jelas Hestu. [wir/ted]






