Jember (beritajatim.com) – Kampus adalah tempat yang rawan penularan penyakit tuberkulosis (TBC). Penderita TBC harus mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat. Karena kesalahan dalam pengobatan tidak hanya dapat menulari yang lain namun dapat berakibat pada kematian.
\\r\\n
Hal ini dikemukakan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember Irma Prasetyowati, di Kabupaten Jember, Jawa Timur. \\\”Di lingkungan kampus seringkali terjadi komunikasi langsung dengan jarak dekat antara mahasiswa dengan dosen, mahasiswa dengan karyawan atau karyawan dengan dosen atau antar sesama mereka di ruang kuliah maupun di ruang kerja. Jadi potensi penularan TBC menjadi sangat besar,\\\” katanya, sebagaimana dilansir Humas dan Protokoler Universitas Jember.
\\r\\n
Atas dasar itu, FKM bekerjasama dengan Rumah Sakit Paru Jember melakukan pemeriksaan secara menyeluruh kepada mahasiswa, karyawan dan dosen terkait kemungkinan penderita TBC di lingkungan kampus tersebut, 20 Desember kemarin. Dengan pemeriksaan tersebut penderita TBC bisa diketahui sejak dini. \\\”Ini merupakan hal yang sangat penting dalam mencegah terjadinya wabah,\\\” kata Irma.
\\r\\n
\\\”Seringkali saat berdekatan itu, ketika ada orang yang terbatuk dan dahaknya erpercik, kita tidak sempat menutup hidung atau mulut dan kita tidak tahu apakah orang itu menderita TBC atau tidak. TBC itu kan penularannya melalui percikan ludah atau dahak,\\\” kata Irma.
\\r\\n
Irma mengingatkan, pengobatan TBC memakan waktu selama enam bulan dengan obat yang tepat. \\\”Jika asal minum obat justru akan memperparah. Karena dia akan menjadi TBC yang kebal obat. Jika sudah demikian maka bisa berdampak pada kematian,\\\” katanya. [wir]





