Ponorogo (beritajatim.com) – Para petani di Ponorogo boleh tersenyum lega. Kekurangan pupuk bersubsidi yang dikhawatirkan terjadi pada musim tanam labuhan atau musim hujan pertama di Desember ini bakal sirna.
Hal ini karena pada pertengahan Desember ini Ponorogo mendapat tambahan alokasi pupuk sebesar 5 ribu ton. Jumlah ini sedikit di bawah permintaan Dinas Pertanian setempat yang mencapai 6.650 ton.
Pupuk ini diharapkan bisa mendorong produksi pada musim tanam yang akan berlangsung pada akhir Desember 2018 ini.
Kepala Dinas Pertanian Ponorogo Harmanto mengatakan, pada pertengahan pekan lalu ia mendapatkan surat balasan dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur atas pengaduannya bulan lalu.
Saat itu, Distan Ponorogo menyatakan, terdapat kekurangan hingga 6.650 ton pupuk kimia untuk mendukung musim tanam labuhan atau waktu tanam di awal musim hujan.
“Nah saat ini Ponorogo dapat tambahan pupuk sebesar 5 ribu ton. Jumlah ini untuk membantu petani menghadapi musim tanam labuhan,” ungkap Harmanto, Senin (17/12/2018).
Pupuk merupakan dari realokasi pupuk dari daerah-daerah lain yang dikurangi dan digeser ke Ponorogo. Harmanto menyatakan tidak mendapat konfirmasi soal daerah yang dikurangi, yang jelas saat ini petani di Ponorogo akan bisa mendapatan pupuk untuk melakukan tanam padi.
Begitu memasuki 2019, kata Harmanto, petani akan mendapatkan pupuk dari RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) baru atau RDKK 2019 . “Maka pada saat itu pupuknya juga sudah ada. Jadi langsung saja dilanjutkan dengan pupuk dari 2019 itu. Untuk akhir tahun tidak perlu khawatir, untuk awal tahun sudah ada di RDKK. Petani bisa tenang lah,” ujarnya.
Pada usulan permohonan pupuk, Harmanto menyatalan ada kekurangan untuk jenis urea sebanyak 350 ton, untuk ZA 300 ton, jenis SP36 1.000 ton dan NPK atau phonska 5.000 ton. Totalnya 6.650 ton. Jumlah ini kurang dari 20 persen dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) pada tahun 2018 ini.
“Dengan adanya tambahan, tentu saja kekurangan itu tertutupi,” ujarnya.
Harmanto menyatakan, hingga akhir November lalu urea sudah disalurkan ke petani sekitar 70 persen dari RDKK 2018 atau sekitar 1.170 ton, untuk ZA sudah tersalur 76 persen atau 4.347 ton, untuk SP36 sudah tersalur 82 persen atau sekitar 5.500 ton dan untuk NPK sudah tersalur sekitar 90 persen dari RDKK atau 50 ribu ton. [dil/ted]





