Lumajang (beritajatim.com) – Belasan hewan ternak di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, mulai dilakukan pencarian pasca erupsi Gunung Semeru. Hanya saja selama pencarian mulai tercium bau menyengat di sekitar lokasi. Bau tak sedap itu berasal dari sapi yang tergeletak dan diselimuti abu vulkanik cukup tebal.
Sapi tersebut diketahui milik Sulaeman (48), warga RT 01/ RW 04, Dusun Umbulan-Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Kata Sulaeman, sapi yang mati terkena erupsi Semeru. Padahal sebenarnya sudah siap dijual saat Idul Adha tahun 2022 mendatang.
“Umurnya sudah tiga tahun, tapi karena kemarin erupsi gak sempat menyelamatkan apa-apa,” ujar Sulaeman, Selasa (7/12/2021).
Sapi malang itu waktu erupsi terkunci di kandangnya. Kini, sapi itu sudah menjadi bangkai. Tim gabungan antara Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan BPBD Jombang pun langsung menguburkan.
Menggunakan bego (alat berat), tanah dikeruk dan sapi yang sudah meninggal tiga hari lalu itu pun dikuburkan. Koordinator Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Kusbiyono menjelaskan, selain sapi Sulaeman, juga ada 14 sapi lain yang kini dalam pencarian.
“Dari data kami ini ada 15 sapi yang hilang di Desa Supiturang ini. Sekarang kami sedang melakukan pencarian untuk mengubur atau menyelematkan sapi-sapi itu,” ujar dia.
Berdasarkan data yang dihimpunnya, terdapat 164 sapi milik warga Desa Supiturang.
“Dan kemungkinan yang tidak bisa ditemukan atau meninggal itu 15,” tutur dia.
Sementara itu untuk hewan kambing dan domba ternak, Kusbiyono mengaku belum mengetahui data pastinya yang meninggal maupun terselamatkan.
“Belum tahu ini kalau kambing,” kata dia.
Selain penyelamatan hewan ternak, Kusbiyono juga menyediakan pakan ternak bagi hewan-hewan ternak yang terselamatkan.
“Karena yang perlu dikasih makan ini bukan hanya manusia tapi hewan ternak. Karena hewan ini juga mahkluk hidup dan daun-daun di sini mayoritas masih bercampur abu vulkanik jadi riskan untuk dimakan hewan ternak,” pungkasnya. [yog/but]







