Probolinggo (beritajatim.com) – Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Kota Probolinggo pada 2025 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo mencatat nilai IKG tahun 2025 mencapai 0,347, naik 0,090 poin dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 0,257. Kenaikan tersebut mengindikasikan ketimpangan gender di Kota Probolinggo kembali melebar.
Kepala BPS Kota Probolinggo, Joko Santoso, mengatakan peningkatan Indeks Ketimpangan Gender Kota Probolinggo tahun 2025 terutama dipengaruhi oleh memburuknya indikator pada dimensi kesehatan reproduksi, khususnya meningkatnya persalinan yang dilakukan di luar fasilitas kesehatan.
“IKG Kota Probolinggo tahun 2025 sebesar 0,347 atau naik 0,090 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Meningkatnya IKG mengindikasikan adanya ketimpangan gender yang semakin melebar,” kata Joko saat ditemui, Selasa (28/7/2026).
Data Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kota Probolinggo Nomor 12/05/3574/Th. XVIII menyebutkan, proporsi perempuan usia 15–49 tahun yang melahirkan hidup tidak di fasilitas kesehatan (MTF) meningkat tajam dari 0,012 pada 2024 menjadi 0,048 pada 2025. Kondisi tersebut menjadi penyumbang utama meningkatnya Indeks Ketimpangan Gender Kota Probolinggo.
Menurut BPS, tingginya persalinan di luar fasilitas kesehatan menunjukkan masih adanya risiko terhadap keselamatan ibu dan bayi. Karena itu, aspek kesehatan reproduksi menjadi pekerjaan rumah yang harus mendapat perhatian pemerintah daerah.
Di sisi lain, indikator perempuan yang melahirkan pertama kali pada usia di bawah 20 tahun (MHPK20) justru menunjukkan perbaikan. Nilainya turun dari 0,242 pada 2024 menjadi 0,211 pada 2025, yang menandakan angka kelahiran usia muda mulai menurun.
Pada dimensi pemberdayaan, keterwakilan perempuan di lembaga legislatif masih sebesar 26,67 persen, sedangkan laki-laki mendominasi dengan 73,33 persen. Sementara itu, penduduk perempuan berusia 25 tahun ke atas yang menamatkan pendidikan minimal SMA mencapai 45,01 persen, masih berada di bawah laki-laki yang mencapai 53,74 persen.
Sektor ketenagakerjaan memperlihatkan perkembangan yang lebih positif. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan meningkat menjadi 55,97 persen, sedangkan TPAK laki-laki turun menjadi 81,29 persen. Kondisi ini menunjukkan kesempatan perempuan memasuki pasar kerja semakin terbuka, meski kesenjangan masih terjadi.
Dibandingkan daerah lain, Indeks Ketimpangan Gender Kota Probolinggo juga tercatat lebih tinggi daripada rata-rata IKG Jawa Timur 2025 yang berada di angka 0,329. Selisih 0,018 poin tersebut menempatkan Kota Probolinggo sebagai salah satu dari sebelas kabupaten/kota di Jawa Timur yang memiliki tingkat ketimpangan gender di atas rata-rata provinsi.
Sebagai perbandingan, daerah dengan IKG 2025 terendah di Jawa Timur adalah Kota Madiun dengan nilai 0,092, disusul Kota Kediri 0,125, Kota Malang 0,137, Kabupaten Madiun 0,139, dan Kota Surabaya 0,151.
BPS menjelaskan, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) merupakan indikator yang mengukur kesenjangan antara perempuan dan laki-laki melalui tiga dimensi utama, yakni kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan partisipasi di pasar tenaga kerja. Semakin rendah nilai IKG, maka semakin baik tingkat kesetaraan gender di suatu daerah. (rap/kun)






