Ringkasan Berita:
- Kementerian Kesehatan menelusuri 5.766 lokus tuberkulosis di 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur.
- Kabupaten Jember menjadi daerah dengan lokus TBC terbanyak kedua setelah Kota Surabaya.
- Kemenkes memperluas program Cek Kesehatan Gratis dengan pemeriksaan rontgen bagi kontak erat pasien TBC.
- Pemerintah menargetkan penurunan kasus TBC melalui deteksi dini dan pengobatan hingga tingkat desa.
Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember menjadi daerah dengan jumlah lokus tuberkulosis (TBC) terbanyak kedua di Jawa Timur setelah Kota Surabaya. Data tersebut merupakan hasil penelusuran atau tracing yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terhadap 5.766 lokus TBC yang tersebar di 38 kabupaten dan kota di provinsi tersebut.
Berdasarkan data Kemenkes, Kota Surabaya menempati posisi pertama dengan 725 lokus. Sementara Kabupaten Jember berada di urutan kedua dengan 324 lokus. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding Kabupaten Sidoarjo yang memiliki 291 lokus, Kabupaten Malang 239 lokus, Banyuwangi 219 lokus, Gresik 212 lokus, Lamongan 210 lokus, Kabupaten Pasuruan 204 lokus, Kabupaten Kediri 190 lokus, dan Jombang 173 lokus.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan tingginya kasus tuberkulosis di Indonesia menjadi perhatian serius pemerintah. Menurutnya, Indonesia saat ini masih menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC.
“Indonesia ini negara nomor dua kasus tuberkulosisnya di dunia. Bayangkan sakit tuberkulosis di Indonesia itu kan sudah ada obatnya. Kita nomor dua di dunia, 10 persen kasus TB di dunia adanya di Indonesia,” kata Benjamin saat peluncuran program homecare bagi warga miskin di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, Jumat (24/7/2026).
Benjamin mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap pengendalian TBC di Indonesia dan meminta upaya penanganan dipercepat.
“Dr. Benny, kamu kan ahli paru. Tolong kamu beresin, masa kasus TB di Indonesia begitu tinggi,” katanya menirukan ucapan Prabowo.
Ia menambahkan, Presiden menargetkan Indonesia mampu menekan angka tuberkulosis sebagai bagian dari langkah menuju negara maju.
“Kita mau jadi bangsa maju, tuberkulosisnya harus dibabat habis,” kata Benjamin menirukan ucapan Prabowo.
Untuk mendukung target tersebut, Kementerian Kesehatan menjalankan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 53.335 lokasi di seluruh Indonesia. Salah satu fokus program ini adalah melakukan pemeriksaan rontgen terhadap orang yang tinggal serumah maupun memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
“Kita akan melakukan CKG atau Cek Kesehatan Gratis dengan foto rontgen untuk pasien TB yang tinggal serumah atau yang kontak erat,” kata Benjamin.
Menurutnya, strategi tersebut penting karena tuberkulosis merupakan penyakit menular yang dapat menyebar di lingkungan keluarga, masyarakat, hingga pondok pesantren apabila kontak erat tidak ikut diperiksa.
“Kalau yang diobati cuma yang sakit, nanti menulari tetangganya atau serumah, atau di pesantren menulari satu pesantren,” kata Benjamin.
Benjamin menjelaskan layanan pemeriksaan rontgen dapat dilakukan di kantor desa maupun posyandu agar masyarakat lebih mudah mengakses deteksi dini TBC.
“Yang penting orangnya datang. Kalau sudah datang tinggal difoto, diperiksa. Kalau enggak sakit, dikasih obat pencegahan, sementara yang sakit diobati,” ujarnya.
Bagi orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC tetapi belum menunjukkan gejala, Kementerian Kesehatan akan memberikan terapi pencegahan berupa obat yang diminum satu kali setiap pekan selama 12 minggu.
“Karena tuberkulosis ini penyakitnya kuman bisa nemplok di badan kita, baru sakit satu dua tahun lagi. Kalau itu dikasih obat pencegahan, dimatiin, jadi enggak terjadi penularan,” kata Benjamin.
Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Jember mengawal pelaksanaan program tersebut hingga tingkat desa agar upaya penelusuran kasus, deteksi dini, dan pengobatan dapat berjalan optimal.
“Kami menyiapkan anggarannya agar bisa dikerjakan di desa-desa. Sehingga kasus TB di Jember bisa turun,” katanya. [wir/beq]






