Ringkasan Berita
- Hari Anak Nasional 2026 di Kota Kediri diisi kampanye anti perundungan, edukasi hak anak, teater, dan pertunjukan olahraga gulat.
- DP3AP2KB mengajak orang tua, sekolah, dan masyarakat memperkuat perlindungan serta mendengarkan suara anak.
- Anak-anak didorong berani melapor apabila mengalami perundungan atau kekerasan melalui Satgas PPA, UPT PPA, maupun layanan SAPA 129.
- Momentum Hari Anak Nasional dimanfaatkan untuk membangun lingkungan yang aman, ramah anak, dan bebas dari kekerasan.
Kediri (beritajatim.com) – Hari Anak Nasional 2026 di Kota Kediri diperingati dengan berbagai kegiatan edukatif yang mengajak masyarakat memperkuat perlindungan anak dan menghentikan praktik perundungan. Ratusan anak memadati Memorial Park sejak pagi untuk mengikuti rangkaian acara yang berlangsung meriah, Kamis (23/7/2026).
Beragam kegiatan digelar dalam peringatan tersebut, mulai dari aksi kampanye, pembagian bunga dan stiker kepada masyarakat, pertunjukan teatrikal bertema anti perundungan, hingga penampilan olahraga gulat yang dibawakan atlet pelajar Kota Kediri.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri, dr. Fajri Mubasysyir, mengapresiasi Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta seluruh pihak yang terus berkomitmen memberikan perlindungan terbaik bagi anak-anak.
Pada momentum Hari Anak Nasional 2026 di Kota Kediri, ia mengajak orang tua, pendidik, pemerintah, dan masyarakat untuk memperkuat komunikasi dengan anak, mengawal pemenuhan hak-hak anak, serta memberikan pendampingan terhadap tumbuh kembang mereka.
Menurutnya, anak-anak perlu diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, terutama menyangkut masa depan mereka.
Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini juga menjadi media edukasi mengenai empat pilar hak dasar anak, yakni hak untuk hidup, hak tumbuh dan berkembang, hak memperoleh perlindungan, serta hak berpartisipasi. Melalui pemahaman tersebut, anak-anak diharapkan semakin mengenali haknya sekaligus berani melapor apabila mengalami kekerasan atau perlakuan yang tidak semestinya.
“Mohon bimbing anak-anak kita dengan sepenuh hati. Mereka harus kita lindungi dan kita persiapkan tumbuh kembangnya untuk beberapa tahun ke depan saat mereka dewasa. Dengarkanlah partisipasi dan suara anak-anak, kita harus memberikan ruang partisipasi dan mendengarkan pendapat mereka terutama terkait masa depannya,” ujar dr. Fajri.
Ia juga menegaskan pentingnya menghentikan praktik perundungan di lingkungan sekolah maupun pergaulan. Anak-anak diminta tidak melakukan perundungan terhadap teman sebaya, sedangkan korban diimbau berani berbicara dan melapor kepada orang tua, guru, kepala sekolah, guru bimbingan konseling, maupun orang dewasa yang dipercaya.
“Berani berbicara adalah langkah awal menuju keselamatan. Jangan diam ketika mengalami perundungan,” tegasnya.
Menurut dr. Fajri, kasus kekerasan terhadap anak, kekerasan seksual, dan pernikahan anak masih menjadi tantangan. Namun meningkatnya jumlah laporan juga menunjukkan semakin banyak korban yang berani mencari pertolongan.
Sebagai langkah pencegahan, DP3AP2KB bersama Satgas PPA terus melakukan sosialisasi di berbagai sekolah mulai jenjang SD hingga SMA. Masyarakat juga diimbau segera melaporkan dugaan kekerasan terhadap anak melalui Satgas PPA di tingkat kelurahan, hotline DP3AP2KB, UPT PPA Kota Kediri, maupun layanan SAPA 129 milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Dalam peringatan tersebut, atlet gulat Kota Kediri sekaligus pelajar SMAN 4, Felicia, mengaku bangga dapat memperkenalkan olahraga gulat kepada masyarakat. Peraih prestasi pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur itu berharap semakin banyak anak di Kota Kediri yang berani mengembangkan bakat di bidang olahraga.
Sementara itu, Dhanis Jainuddin Al-Fatih, siswa SDN Tosaren 4 yang tampil dalam pertunjukan teater, menyampaikan pesan agar seluruh anak menjauhi perundungan. Ia berharap anak-anak Kota Kediri dapat tumbuh menjadi generasi yang bahagia, berprestasi, dan terbebas dari berbagai pengaruh negatif. [nm/ian]






