Surabaya (beritajatim.com) – Pemulihan fisik pemain Persebaya Surabaya mulai dipantau secara serius oleh pelatih fisik Diogo Carvalho menjelang Piala Presiden 2026 yang dijadwalkan bergulir pada 26 Juli 2026 mendatang.
Selama latihan berlangsung, Diogo melakukan serangkaian evaluasi fisik menggunakan pendekatan berbasis data untuk melihat respons tubuh pemain setelah menjalani pertandingan.
Salah satu metode yang digunakan untuk mengamati kondisi fisik pemain Bajul Ijo adalah Counter Movement Jump (CMJ) Test. Tes ini berfungsi mengukur kapasitas neuromuskular, tingkat kelelahan, hingga kesiapan pemain dalam menjalani program latihan berikutnya.
“Melalui tes ini, kami bisa mendapatkan data yang akurat mengenai kapasitas neuromuskular, tingkat kelelahan, serta kesiapan pemain untuk menjalani latihan maupun pertandingan,” ungkap Diogo, Kamis (23/7/2026).
Pelatih asal Portugal itu mengatakan, hasil tes akan dibandingkan dengan data dasar yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh tim pelatih. Perbandingan tersebut digunakan untuk melihat perubahan kondisi fisik pemain setelah menjalani pertandingan.
“Kami memiliki data awal atau nilai acuan dari setiap pemain. Setelah itu, hasil tes akan dibandingkan dengan data tersebut untuk melihat perubahan kondisi fisik mereka. Dari sana kami bisa mengetahui apakah pemain berada dalam kondisi optimal, mengalami kelelahan, atau memiliki risiko cedera,” imbuhnya.
Performance Coach DBL Academy, Muhammad Nur Rofik, menambahkan bahwa teknologi CMJ Test diperlukan untuk memperoleh gambaran kondisi fisik pemain secara lebih rinci dibandingkan hanya mengandalkan pengamatan secara visual.
“Melalui sistem VALD Performance, kami bisa memperoleh data yang cukup lengkap. Tidak hanya tinggi lompatan, tetapi juga peak power atau daya ledak maksimum yang dihasilkan pemain saat melakukan lompatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, CMJ Test dipilih karena dinilai relevan dengan karakteristik permainan sepak bola yang didominasi aktivitas anggota tubuh bagian bawah, seperti berlari, berakselerasi, melompat, hingga melakukan perubahan arah.
“Dalam sepak bola, sebagian besar aktivitas fisik melibatkan anggota tubuh bagian bawah. Gerakan pada tes CMJ memiliki mekanisme yang cukup merepresentasikan tuntutan permainan, sehingga sangat relevan digunakan untuk mengukur kapasitas fisik pemain sepak bola,” tandasnya. (way/but)






