Ringkasan Berita:
- Universitas Negeri Malang meluncurkan EV Charger berkapasitas 11 kW di lingkungan kampus.
- Fasilitas ini mendukung penggunaan kendaraan listrik sekaligus memperkuat riset dan inovasi energi hijau.
- UM menargetkan pengembangan ekosistem energi bersih dan percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
- Inovasi tersebut mendukung pencapaian SDGs bidang energi bersih, inovasi, dan penanganan perubahan iklim.
Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) terus memperkuat komitmennya dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan dengan menghadirkan stasiun pengisian kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV Charger) berkapasitas 11 kW. Fasilitas yang dikembangkan melalui Direktorat Inovasi UM ini menjadi langkah strategis untuk mendukung pemanfaatan kendaraan listrik sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem energi hijau di Indonesia.
Kehadiran EV Charger tersebut tidak hanya menyediakan layanan pengisian daya kendaraan listrik di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi bagian dari upaya UM dalam memperkuat riset, inovasi, dan implementasi teknologi energi bersih yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tim Pengembang EV Charger UM, Prof. Muhammad Alfian Mizar, mengatakan pengembangan fasilitas tersebut merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.
“Pengembangan EV Charger 11 kW ini merupakan langkah strategis yang mampu mendorong pemanfaatan energi terbarukan. Kami berharap inovasi ini tidak hanya mendukung kebutuhan kendaraan listrik di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem energi bersih di Indonesia,” ujar Prof. Alfian dalam keterangannya.
Menurutnya, inovasi tersebut juga menunjukkan kapasitas Universitas Negeri Malang dalam menghasilkan teknologi yang mampu bersaing di sektor energi terbarukan. Perguruan tinggi, kata dia, memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi inovatif yang menjawab kebutuhan energi masa depan.
“Pengembangan EV Charger ini sekaligus menyelaraskan diri dengan agenda global pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan,” lanjutnya.
Melalui pengembangan EV Charger 11 kW, UM ingin mempertegas perannya tidak hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai pelopor transformasi menuju pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan.
Prof. Alfian berharap fasilitas tersebut dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia sekaligus mendorong penurunan emisi karbon melalui penggunaan moda transportasi rendah emisi.
“Inovasi kami proyeksikan menjadi pemantik meluasnya penggunaan energi bersih sekaligus menginspirasi percepatan transisi menuju moda transportasi rendah emisi di Indonesia,” imbuh Prof. Alfian Mizar.
Pengembangan stasiun pengisian kendaraan listrik tersebut juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau melalui pemanfaatan teknologi energi terbarukan, SDGs 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan infrastruktur berkelanjutan, serta SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui upaya pengurangan emisi karbon.
Dengan inovasi ini, Universitas Negeri Malang berharap dapat menjadi salah satu motor penggerak pengembangan teknologi energi hijau di Indonesia, sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, penelitian, dan industri dalam mendukung percepatan transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan. [dan/beq]






