Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, mendorong Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur meningkatkan alokasi anggaran untuk program promosi kesehatan. Menurutnya, penguatan edukasi dan upaya pencegahan penyakit perlu menjadi prioritas agar masyarakat semakin sadar pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak dini.
“Edukasi mengenai pola makan sehat, konsumsi gula dan garam, serta gaya hidup sehat perlu lebih sering disampaikan melalui berbagai media agar masyarakat semakin sadar pentingnya pencegahan penyakit,” kata Jairi di Surabaya, Selasa (22/7/2026).
Jairi menilai sistem pelayanan kesehatan saat ini masih lebih banyak berfokus pada aspek kuratif atau pengobatan dibandingkan upaya promotif dan preventif. Kondisi tersebut membuat jumlah masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan terus meningkat dan berdampak pada besarnya pembiayaan kesehatan.
“Kalau masyarakat terbiasa hidup sehat dan rutin memeriksakan kesehatannya, penyakit bisa diketahui lebih awal sehingga penanganannya lebih efektif,” ujar politisi Golkar ini.
Dia mengatakan edukasi kesehatan perlu diperluas melalui berbagai saluran informasi agar menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Materi kampanye dapat memuat batas konsumsi gula, garam, dan lemak harian, pentingnya aktivitas fisik, serta ajakan memanfaatkan program pemeriksaan kesehatan gratis sebagai langkah deteksi dini.
Jairi juga mengingatkan meningkatnya kasus penyakit tidak menular, termasuk gangguan ginjal yang kini mulai ditemukan pada usia produktif. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa perubahan pola hidup sehat harus terus diperkuat melalui kampanye yang masif dan berkelanjutan.
“Fenomena meningkatnya penyakit tidak menular harus menjadi alarm bagi kita semua. Karena itu, promosi kesehatan harus diperkuat agar masyarakat memahami pentingnya menjaga pola hidup sehat sebelum jatuh sakit,” katanya.
Selain mengandalkan anggaran pemerintah, Jairi mendorong keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Dia menilai kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan kampanye hidup sehat hingga ke berbagai daerah di Jawa Timur.
“Kolaborasi dengan dunia usaha perlu dibangun agar kampanye hidup sehat semakin luas dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Pencegahan penyakit adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” ujarnya.
Menurut Jairi, penguatan aspek promotif dan preventif merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan kesehatan. Dia meyakini keberhasilan program pencegahan akan berdampak pada menurunnya angka penyakit yang membutuhkan penanganan intensif sekaligus mengurangi beban pembiayaan kesehatan.
“Harapannya, jika promosi kesehatan dan upaya preventif berjalan optimal, kebutuhan layanan kuratif dapat ditekan sehingga beban APBN maupun APBD dalam pembiayaan kesehatan juga menjadi lebih ringan,” pungkasnya. [asg/ian]






