Tulungagung (beritajatim.com) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) PSDKU Universitas Brawijaya Kediri Kelompok 21 melaksanakan kegiatan penyuluhan bertajuk “Pemanfaatan Limbah Jerami Menjadi Briket Arang, Bio-Disinfektan Alami Daun Sirih, dan Strategi Pemasaran Briket di Era Digital” di Desa Pucung Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, pada Rabu (15/7/2026).
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja yang bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan potensi lokal melalui penerapan teknologi tepat guna guna mendukung ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta penerapan ekonomi sirkular.
Penyuluhan diawali dengan sambutan Kepala Desa Pucung Kidul, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta terhadap materi yang akan disampaikan. Selanjutnya, mahasiswa KKN memaparkan materi mengenai pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melalui pemanfaatan bio-disinfektan berbahan dasar daun sirih, pemanfaatan limbah jerami menjadi briket arang sebagai sumber energi alternatif, serta strategi pemasaran produk briket agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab bersama masyarakat, kemudian ditutup dengan post-test sebagai evaluasi peningkatan pemahaman peserta dan penyerahan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa bio-disinfektan alami dan briket jerami kepada perwakilan Desa Pucung Kidul.
Penyuluhan mengenai bio-disinfektan alami dilatarbelakangi oleh masih adanya kekhawatiran sebagian peternak terhadap vaksinasi PMK, sehingga diperlukan alternatif pendamping yang mudah diterapkan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan daun sirih yang mengandung senyawa aktif seperti eugenol, tanin, dan flavonoid yang memiliki sifat antiseptik sehingga dapat membantu membersihkan luka serta mencegah infeksi tambahan pada ternak. Mahasiswa juga menegaskan bahwa bio-disinfektan alami bukanlah pengganti vaksinasi, melainkan sebagai upaya pendukung biosekuriti yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
Selain membahas kesehatan ternak, mahasiswa juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan limbah jerami padi yang selama ini sebagian besar hanya dibakar atau dibiarkan menumpuk setelah musim panen. Melalui proses karbonisasi sederhana, jerami diolah menjadi briket arang yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan.
Dalam penyuluhan ini, peserta memperoleh penjelasan mengenai alat dan bahan, tahapan pembuatan, cara penggunaan, hingga penyimpanan briket agar kualitasnya tetap terjaga. Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah limbah pertanian sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembakaran jerami.
Sebagai pelengkap materi, mahasiswa KKN turut memberikan edukasi mengenai strategi pemasaran briket arang di era digital. Materi meliputi pentingnya membangun identitas produk melalui merek dan kemasan yang menarik, penggunaan media sosial sebagai sarana promosi, serta penyajian informasi produk yang lengkap agar mampu meningkatkan daya tarik konsumen. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memahami proses produksi, tetapi juga memperoleh bekal untuk mengembangkan peluang usaha berbasis potensi lokal.
Program ini mengusung inovasi berupa penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang memanfaatkan sumber daya lokal menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi. Bio-disinfektan alami dapat dibuat menggunakan bahan sederhana yang mudah diperoleh masyarakat, sedangkan briket arang jerami menjadi solusi pemanfaatan limbah pertanian menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan. Seluruh proses diperkenalkan melalui demonstrasi secara langsung sehingga masyarakat dapat memahami sekaligus mempraktikkan setiap tahapan pembuatannya secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap masyarakat Desa Pucung Kidul dapat mengimplementasikan inovasi yang telah diperkenalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bio-disinfektan alami diharapkan menjadi langkah pendukung dalam menjaga kesehatan ternak, sedangkan pemanfaatan jerami menjadi briket arang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah limbah pertanian dan membuka peluang usaha baru berbasis potensi desa.
Kegiatan penyuluhan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs Poin 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui pemberian keterampilan kepada masyarakat dalam mengolah limbah pertanian menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi meningkatkan pendapatan. Program ini juga mendukung SDGs Poin 2 (Tanpa Kelaparan) dengan mendorong keberlanjutan sektor pertanian dan peternakan melalui pemanfaatan teknologi sederhana yang membantu menjaga kesehatan ternak dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal.
Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan SDGs Poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) karena mengedukasi masyarakat untuk memanfaatkan limbah jerami secara lebih optimal, mengurangi pembakaran limbah pertanian, serta menerapkan konsep ekonomi sirkular melalui pengolahan limbah menjadi produk yang bermanfaat dan ramah lingkungan.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Pucung Kidul dalam mengelola limbah pertanian serta menjaga kesehatan ternak terus meningkat sehingga mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan potensi lokal secara optimal. (aga)






