Ponorogo (beritajatim.com) – Di tengah suasana pedesaan Desa Pangkal, Kecamatan Sawoo, Ponorogo, berdiri sebuah warung sederhana yang telah menjadi tujuan para pencinta kuliner selama puluhan tahun. Warung Ayam Panggang Bu Kawir masih mempertahankan resep turun-temurun. Selain itu, teknik memanggangnya pun tetap menggunakan kayu bakar sehingga menghasilkan cita rasa yang membuat banyak pelanggan rela datang kembali.
Warung Ayam Panggang Bu Kawir dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris di Ponorogo. Meski tampil sederhana, warung ini hampir tidak pernah sepi pengunjung. Pelanggan datang dari berbagai wilayah di Ponorogo hingga luar kota untuk mencicipi kelezatan ayam panggang yang telah bertahan lebih dari 30 tahun tersebut.
Keistimewaan ayam panggang ini dimulai dari pemilihan bahan baku. Ayam kampung segar dipilih, lalu dibumbui dengan aneka rempah pilihan. Setelah dimasak dalam kuah bumbu hingga meresap, ayam dipanggang di atas bara kayu bakar hingga berwarna kecokelatan. Proses tersebut menghasilkan aroma asap yang menggugah selera.
Teknik memanggang menggunakan kayu bakar menjadi pembeda utama Ayam Panggang Bu Kawir. Proses tersebut membuat tekstur daging tetap empuk, namun memiliki aroma asap alami yang khas.
Pemilik Warung Ayam Panggang Bu Kawir, Winarti, mengatakan resep yang digunakan merupakan warisan keluarga yang terus dipertahankan hingga sekarang. Menurutnya, proses memasak juga masih menggunakan cara tradisional agar cita rasa tetap sama seperti dahulu. “Resep ayam panggang ini sudah turun-temurun dari dulu,” ungkap Winarti, Kamis (15/7/2026).
Selain dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas Ponorogo, banyak pengunjung memilih menikmati ayam panggang langsung di lokasi. Daging ayam yang empuk berpadu dengan bumbu manis gurih memberikan sensasi rasa yang nikmat di setiap suapan. Sajian tersebut semakin lengkap dengan lalapan segar yang disediakan.
Pengunjung juga dapat memilih dua jenis nasi sebagai pelengkap hidangan. Selain nasi putih, tersedia pula nasi tiwul yang menjadi favorit sebagian pelanggan. Pilihan tersebut membuat pengalaman menikmati ayam panggang terasa semakin khas.
“Kalau makan di sini, bau panggangan dari kayu bakar bikin nostalgia seperti zaman dulu,” kata Sayekti, salah satu pengunjung.
Tak hanya ayam panggangnya yang menjadi incaran pelanggan. Sambal pete racikan Bu Kawir juga menjadi pelengkap yang banyak dipuji karena mampu menambah kenikmatan saat menyantap ayam panggang. Perpaduan rasa pedas, gurih, dan aroma pete membuat banyak pelanggan ketagihan. “Sambalnya enak dan pedas, terus ada lalapan pete, bikin nagih pokoknya,” kata Triwahyudi, pengunjung lainnya.
Untuk menikmati satu porsi ayam panggang utuh, pengunjung cukup merogoh kocek sekitar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu. Dengan harga tersebut, pelanggan sudah dapat menikmati kuliner legendaris khas Ponorogo yang mempertahankan cita rasa tradisional selama puluhan tahun. [kun]






