Margareth Thatcher hidup kembali. Dalam sebuah klip berdurasi satu menit 19 detik bikinan Akal Imitasi yang diunggah di salah satu akun Instagram, dia memerintahkan Harry Kane dan Jude Bellingham yang berpakaian militer untuk merebut Pulau Falkland (yang juga disebut Pulau Malvinas) dari tangan Argentina.
Mereka meluncur dengan pesawat tempur F-16 menuju Malvinas yang dijaga Lionel Messi, Diego Simeone, dan…. Diego Armando Maradona.
Pertempuran terjadi dan, tentu saja, Inggris yang menang. Harry Kane, Jude Bellingham, bersama Wayne Rooney, John Terry, dan sejumlah pensiunan pesepakbola Inggris mengibarkan bendera Union Jack di sana.
Di ujung klip video ini, Margareth Thatcher tertawa terbahak-bahak melihat Lionel Messi berdiri di atas papan kayu di pinggir geladak kapal perang Inggris. “Now you sleep with the Belgrano,” teriak Thatcher sembari menendang pantat Messi hingga terlempar ke laut, diiringi tawa para pemain timnas Inggris.
Belgrano yang dimaksud Thatcher adalah ARA General Belgrano, kapal penjelajah ringan milik Angkatan Laut Argentina yang ditenggelamkan kapal selam nuklir Inggris, HMS Conqueror, saat Perang Falkland atau Guerra de las Malvinas pada 2 Mei 1982, beberapa bulan sebelum Piala Dunia di Spanyol dimulai.
Ada banyak perang antarnegara yang memperebutkan wilayah tertentu. Namun tidak ada yang memiliki daya pikat yang begitu kuat terhadap tim nasional sepak bola, sekuat magnet Perang Dunia II dan Perang Malvinas terhadap tim nasional Inggris.
Imaji dan nostalgia Perang Dunia II selalu dihidupkan orang Inggris, terutama tabloid-tabloid kuning mereka, saat tim nasional Three Lions berhadapan dengan Jerman. Namun aura Perang Malvinas atau Perang Falkland jauh berbeda.
Tidak seperti rakyat Jerman yang berusaha melupakan memori Perang Dunia II yang menempatkan mereka pada posisi kalah, rakyat Argentina merespons kenangan tentang Perang Malvinas dengan imaji kebangsaan dan harga diri yang terluka.
Setelah berperang selama 74 hari, mereka dinyatakan kalah pada 14 Juni 1982, sehari setelah pembukaan Piala Dunia di Spanyol. Mengabaikan kondisi perang itu, sebelum berangkat ke Spanyol, skuad Argentina berpose dengan spanduk bertuliskan ‘Las Malvinas son Argentinas’. Malvinas milik Argentina.
“Kami yakin kami memenangi perang dan seperti patriot lainnya, kesetiaan saya adalah kepada bendera nasional. Itu pukulan telak bagi semua orang di tim,” kata Diego Maradona, bintang muda Argentina.
Sementara pelatih Luis Cesar Menotti terang-terangan membandingkan Piala Dunia dengan perang. “Setiap orang memiliki peran dalam perjuangan,” katanya dalam buku The Power and the Glory: A New History of the World Cup karya Jonathan Wilson.
“Saat ini ada persatuan nasional melawan kolonialisme dan imperialisme Inggris. Kami merasakan kesedihan yang mendalam atas saudara-saudara kami di armada perang, namun kami telah ditugasi misi olahraga dan kami akan mencoba untuk memenuhinya dengan bermartabat,” kata Menotti.
Empat tahun kemudian, Inggris dan Argentina bertemu dalam perempat final Piala Dunia di Stadion Azteca, Meksiko, dan darui sini kita memahami apa yang dikatakan sastrawan George Orwell dalam esainya berjudul The Sporting Spirit yang ternit pada 1945, bahwa ‘International football is the continuation of war by other means’.
Minggu, 22 Juni 1986, dua gol Maradona merontokkan Inggris 2-1. Dua gol kontradiktif yang bikin dongkol orang Inggris: gol pertama dengan menggunakan tangan yang kemudian masyhur dengan sebutan ‘Gol Tangan Tuhan”, dan lainnya dinobatkan sebagai ‘Gol Abad Ini’ karena mempertontonkan kelihaian Maradona melewati enam pemain Inggris sendirian.
“Seolah-olah kami telah mengalahkan sebuah negara, bukan hanya sebuah tim sepak bola. Meskipun sebelum pertandingan dikatakan bahwa sepak bola tidak ada hubungannya dengan Perang Falkland, kami tahu [bahwa Inggris] telah menembak jatuh banyak pemuda Argentina seperti burung kecil. Jadi pertandingan ini adalah balas dendam,” kata Maradona dalam buku otobiografinya.
Ada apa dengan Malvinas? Ada apa dengan Falkland, sehingga senantiasa membayang-bayangi pertandingan sepak bola Inggris dan Argentina selama puluhan tahun?
Malvinas atau Falkland (sekali lagi, penyebutannya tergantung kepada siapa Anda berpihak) adalah sebuah kepulauan kecil di lepas pantai Patagonia dan Argentina. Dengan luas 12 ribu kilometer persegi dan beribukotakan Stanley, kepulauan ini dihuni sekitar 3.500 jiwa dan diperebutkan Prancis, Spanyol, dan Inggris sepanjang sejarah kolonialisme.
Setelah merdeka pada 1816, Argentina mengklaim pulau tersebut. Namun Inggris mempertahankannya dengan mendirikan permukiman bertahap di sana. Hal ini memantik ketegangan antara kedua negara walau tidak sampai pecah perang.
Bahkan Argentina dan Inggris sempat bernegosiasi pada 1965, menyusul pemberlakuan Deklarasi PBB tentang Pemberian Kemerdekaan kepada Negara dan Rakyat Jajahan. Namun tidak ada kata sepakat.
Munculnya junta militer di Argentina pada 1976 membuat situasi berubah. Gagalnya perbaikan kondisi sosial ekonomi membuat rezim mengambil jalan pintas: menciptakan kebanggaan nasional dan musuh bersama.
Kebanggaan nasional diciptakan melalui keberhasilan tim nasional Argentina menjuarai Piala Dunia 1978 di kandang sendiri dengan mengalahkan Belanda 3-1. Sementara imaji musuh bersama kembali dibangkitkan dengan pengiriman pasukan Argentina dalam Operasi Rosario untuk merebut Malvinas dari tangan Inggris pada 2 April 1982.
Ini bukan misi militer biasa. Jenderal Galtieri tak hanya berniat merebut Malvinas, namun juga meluncurkan proyek ekspansionis ‘Argentina Bikontinental’ yang memungkinkan negara tersebut memperluas jangkauannya hingga ke Antartika dan menjadi kekuatan regional yang tak tertandingi.
Malvinas harus direbut karena selain pintu gerbang menuju Antartika, kepulauan itu selama bertahun-tahun sudah masuk ke dalam kesadaran kolektif rakyat Argentina.
Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher melakukan serangan balik, dan perang itu hanya berlangsung dua bulan. Setelah 649 orang Argentina dan 255 orang Inggris tewas, angkatan bersenjata Argentina menyerah kalah dan menandatangani perjanjian damai.
Kemenangan Inggris ini mengantarkan Thatcher kembali ke 10 Downing Street untuk periode kedua. Sementara itu kekalahan Argentina memicu runtuhnya kediktatoran militer dan terpilihnya Raúl Alfonsín menjadi presiden Argentina dalam pemilihan presiden demokratis pertama, pada 1983.
Menjelang pertandingan semifinal Piala Dunia 2026, di Stadion Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, 16 Juli 2026 dini hari WIB, situasi geopolitik dan sepak bola internasional tidak menguntungkan bagi Inggris.
Baru-baru ini media massa memberitakan bahwa pemerintahan Trump tengah meninjau kembali dukungan untuk Inggris dalam sengketa Malvinas, karena minimnya dukungan pemerintahan Inggris terhadap invasi AS dan Israel ke Iran.
Di lapangan hijau, jurnalis Prancis Romain Molina mengklaim FIFA menginginkan final ideal yang mempertemukan Prancis dan Argentina dalam Piala Dunia 2026. Tentu saja tujuannya bisnis. Namun skenario itu, jika benar adanya, sudah rontok separuh setelah Prancis dikalahkan Spanyol 0-2 di semifinal.
Kini tergantung Inggris untuk ‘menendang pantat Messi’ dan menenggelamkan timnas Argentina sebagaumana dulu mereka menenggelamkan Belgrano. [wir/ian]






