Ringkasan Berita
- SDN Gadungan 2 Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, untuk pertama kalinya tidak menerima siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027 sehingga tidak memiliki kelas I.
- Penurunan jumlah murid terjadi secara bertahap selama beberapa tahun terakhir hingga kini sekolah hanya memiliki 31 siswa dari kelas II sampai kelas VI.
- Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah dengan jumlah siswa minim, termasuk aspek guru, sarana prasarana, dan kurikulum.
- Opsi penempatan guru berpengaruh hingga penggabungan (merger) sekolah mulai dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang.
Kediri (beritajatim.com) – Tahun ajaran 2026/2027 menjadi catatan tersendiri bagi SDN Gadungan 2, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Untuk pertama kalinya sejak berdiri, sekolah tersebut tidak menerima satu pun siswa baru sehingga pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) diganti menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Kelas (MPLK) bagi siswa yang sudah ada.
Kondisi ini mencerminkan terus menurunnya jumlah peserta didik dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini SDN Gadungan 2 hanya memiliki 31 siswa, seluruhnya berasal dari kelas II hingga kelas VI, sementara kelas I kosong.
Penurunan Murid Terjadi Bertahun-tahun
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SDN Gadungan 2, Nur Edy, menjelaskan penurunan jumlah murid bukan terjadi secara mendadak. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menarik minat masyarakat, mulai dari pendekatan kepada orang tua hingga koordinasi dengan pengawas taman kanak-kanak.
Namun, hasilnya belum mampu meningkatkan jumlah pendaftar.
“Kami sendiri sudah upaya pendekatan dari orang tua, dari lingkungan sudah, dari penilik, pengawas TK itu ternyata keluhannya sama. Di sini tidak diurusi, tidak dipercaya oleh lingkungan. Itu ternyata sudah lama, baru muncul kali ini,” ujarnya.
Selain persoalan kepercayaan masyarakat, lokasi sekolah yang berdekatan dengan sejumlah SD lain juga membuat calon siswa memiliki banyak pilihan.
“Di sini antara SD yang satu dengan yang lain terlalu dekat. Mereka banyak yang berlari ke lembaga lain yang dianggap memiliki potensi lebih,” jelas Nur Edy.
Tinggal 31 Siswa, Guru Juga Segera Pensiun
Kondisi sekolah semakin berat karena jumlah tenaga pendidik juga terbatas. Dari empat guru yang bertugas, dua orang dijadwalkan memasuki masa pensiun dalam waktu dekat.
Guru kelas II dan III, Tria Tin, mengaku sedih melihat jumlah siswa terus menyusut. Saat mulai mengajar pada 2016, sekolah masih memiliki sekitar 150 siswa.
Kini, jumlah tersebut tinggal sekitar 31 siswa. “Saya merasa sedih ya, di masa paripurna saya ini harus menghadapi situasi seperti ini,” katanya.
Menurutnya, berbagai masukan telah disampaikan kepada pimpinan sekolah sejak beberapa tahun lalu. Namun rendahnya kepercayaan masyarakat menjadi tantangan yang belum berhasil diatasi.
Meski demikian, kualitas lulusan sekolah dinilai tetap baik. Seluruh siswa kelas VI tahun ini berhasil melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri.
Disdik Siapkan Evaluasi Menyeluruh
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin memastikan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap sekolah-sekolah yang memiliki jumlah siswa sangat sedikit.
Evaluasi meliputi standar guru dan tenaga kependidikan (GTK), sarana dan prasarana, hingga pelaksanaan kurikulum.
“Disdik akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah yang muridnya sedikit, di antaranya evaluasi standar GTK, sarana prasarana, kurikulum, dan lainnya,” ujarnya.
Opsi Guru Lokal hingga Merger Sekolah
Selain evaluasi, Dinas Pendidikan juga menyiapkan sejumlah alternatif solusi agar layanan pendidikan tetap berjalan efektif.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan ialah menempatkan guru yang memiliki pengaruh di lingkungan Desa Gadungan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Di sisi lain, penggabungan atau merger sekolah juga masuk dalam kajian jangka panjang.
“Salah satu alternatif solusi yang sedang dipertimbangkan adalah menempatkan guru berpengaruh yang berasal dari Desa Gadungan. Alternatif lain seperti merger juga menjadi pertimbangan dalam jangka panjang,” jelas Muhsin.
Keputusan nantinya akan mempertimbangkan efektivitas penyelenggaraan pendidikan sekaligus kebutuhan masyarakat setempat.
Pihak SDN Gadungan 2 berharap pemerintah desa, Dinas Pendidikan, serta seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi apabila sekolah masih diproyeksikan tetap beroperasi. Namun apabila opsi merger menjadi pilihan terbaik, sekolah menyatakan siap mengikuti kebijakan pemerintah. [nm/suf]






