Ngawi (beritajatim.com) – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kabupaten Ngawi menyisakan persoalan serius.
Sebanyak 502 sekolah dasar (SD) negeri dan swasta yang tersebar di 19 kecamatan mengalami kekurangan murid. Bahkan, satu sekolah negeri sama sekali tidak memperoleh siswa baru sehingga kelas I kosong pada tahun ajaran ini.
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Ngawi menunjukkan hanya dua SD yang mampu memenuhi kuota penerimaan siswa baru, yakni SD Negeri Karangtengah 4 dan SD Negeri Margomulyo 1, keduanya berada di Kecamatan Ngawi.
Sementara itu, ratusan sekolah lainnya menerima murid di bawah pagu yang ditetapkan, bahkan sejumlah sekolah hanya mendapatkan dua siswa baru.
Kondisi paling memprihatinkan dialami SD Negeri Rejomulyo 2 di Kecamatan Karangjati. Sekolah tersebut tidak memperoleh satu pun murid baru pada pelaksanaan SPMB tahun 2026 ini.
Pihak sekolah mengaku telah melakukan berbagai langkah untuk menarik calon peserta didik, termasuk menjalin komunikasi dan pendekatan dengan taman kanak-kanak (TK) di wilayah desa setempat. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD Negeri Rejomulyo 2, Catur Sulistiyowati, mengatakan pihaknya menerima kenyataan bahwa tahun ini tidak ada siswa baru yang mendaftar.
“Berbagai upaya telah kita lakukan namun tidak mendapatkan murid, jadi kelas satu kosong tahun ini,” ujarnya, Senin (13/7/2026)
Menurut pihak sekolah, minimnya jumlah lulusan TK di wilayah tersebut menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, persaingan dengan sekolah lain di sekitar desa juga turut memengaruhi rendahnya jumlah pendaftar.
Meski tidak memiliki siswa baru, SD Negeri Rejomulyo 2 tetap menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sesuai agenda tahun ajaran baru.
Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari kesiapan sekolah apabila nantinya terdapat siswa yang masuk melalui mekanisme perpindahan atau kebijakan lain dari pemerintah.
Fenomena kekurangan murid tidak hanya terjadi di jenjang sekolah dasar. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi juga mencatat sebanyak 82 sekolah menengah pertama (SMP) negeri dan swasta mengalami kekurangan peserta didik baru.
Dari seluruh SMP di Kabupaten Ngawi, hanya tiga sekolah yang berhasil memenuhi kuota penerimaan, yaitu SMP Negeri 1 Ngawi, SMP Negeri 1 Jogorogo, dan SMP Negeri 1 Paron.
Salah satu sekolah yang mengalami jumlah siswa sangat minim adalah SMP Negeri Kedunggalar 3 yang hanya memperoleh lima peserta didik baru.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi, Zaenal Fanani, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, persoalan kekurangan siswa terjadi di banyak sekolah, baik jenjang SD maupun SMP.
“Jumlah sekolah 502 sekolah dasar, beberapa SD kekurangan siswa bahkan ada yang nol siswa. Untuk SMP ada beberapa yang minim siswa, bahkan di SMP Kedunggalar hanya lima siswa,” kata Zaenal Fanani.
Fenomena ini menjadi gambaran tantangan dunia pendidikan di daerah, terutama di wilayah dengan jumlah anak usia sekolah yang terus menurun. Selain dipengaruhi faktor demografi, distribusi peserta didik juga semakin terkonsentrasi pada sekolah-sekolah yang dinilai lebih diminati masyarakat sehingga sekolah lain kesulitan memenuhi kuota.
Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada efektivitas penyelenggaraan pembelajaran, efisiensi penggunaan anggaran pendidikan, hingga pemanfaatan tenaga pendidik di sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan murid.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah-sekolah yang jumlah siswanya sangat minim. Salah satu opsi yang akan dikaji adalah regrouping atau penggabungan sekolah agar layanan pendidikan tetap berjalan efektif dan kualitas pembelajaran dapat dipertahankan di tengah penurunan jumlah peserta didik. [fiq/ted]






