Pasuruan (beritajatim.com) – Aparat kepolisian mengambil tindakan tegas dengan membekukan seluruh aktivitas permainan tradisional ekstrem yang belakangan ini digandrungi oleh masyarakat setempat. Keputusan ini diambil sebagai langkah preventif guna mencegah terulangnya insiden fatal yang membahayakan keselamatan jiwa para peserta, khususnya anak-anak di bawah umur.
Langkah penghentian operasional ini dipicu oleh adanya peristiwa kecelakaan kerja alat luncur yang memakan korban cedera cukup parah di area lintasan balap. Pihak berwajib kini tengah menyusun regulasi keamanan yang lebih ketat sebelum memberikan izin operasional kembali bagi rekreasi pemacu adrenalin tersebut.
“Jadi biar polemik ini tidak berkepanjangan karena kemarin juga ada informasi kecelakaan di daerah Palembon, Kecamatan Prigen. Sementara ini untuk sambil menunggu SOP, kita hentikan dulu kegiatan gledekan di wilayah Prigen,” tegas Kapolsek Prigen, AKP Mulyono, Selasa (14/7/2026).
Dirinya menerangkan bahwa pelarangan sementara ini berlaku untuk semua titik lintasan, termasuk lokasi-lokasi besar seperti di wilayah Ketanireng, Ledug, hingga perbatasan yang menembus jalur Pacet dan Malang.
Penyelidikan mendalam di lokasi kejadian mengungkap adanya faktor kelalaian panitia dalam mengawasi spesifikasi teknis kendaraan nonmesin yang digunakan oleh para peserta. Absennya pelindung benturan minimal pada bagian kemudi dituding menjadi penyebab utama fatalnya dampak benturan saat kendaraan kehilangan kendali.
Pihak penyelenggara lokal menyatakan bertanggung jawab penuh atas insiden memilukan tersebut dan berjanji akan menanggung seluruh biaya perawatan medis korban. Evaluasi internal kini tengah berjalan secara menyeluruh guna merumuskan standar kelaikan unit luncur sebelum ajang ini kembali digulirkan ke publik.
“Kejadian pada hari Minggu (12/7) kemarin menjadi bahan evaluasi dan pembenahan total untuk kegiatan kami selanjutnya. Setelah ditelusuri, ternyata korban yang masih anak-anak tidak memenuhi standarisasi alat karena bagian stang tidak dilengkapi pelindung karet sehingga kepalanya terbentur hingga mengalami luka serius di bagian batang hidung,” aku Ketua Panitia Gledekan Tretes, Dian Cahyono.
Pihaknya mengakui adanya kelonggaran pengawasan teknis di garis start yang berujung pada terjadinya kecelakaan tunggal tersebut.
Masyarakat sekitar dan para orang tua diimbau untuk lebih selektif dalam memberikan izin kepada buah hati mereka saat ingin mencoba permainan berkecepatan tinggi ini. Jalur turunan curam khas perbukitan Prigen memang menuntut konsentrasi penuh serta kesiapan alat keselamatan protektif yang mumpuni.
Polsek Prigen memastikan tidak akan segan membubarkan paksa jika masih ditemukan adanya oknum warga yang nekat menggelar balapan liar gledekan secara sembunyi-sembunyi selama masa pembekuan izin. Sinergi antara tokoh masyarakat dan aparat keamanan diharapkan mampu mengembalikan fungsi permainan tradisional ini menjadi sarana hiburan yang aman dan menyenangkan. (ada/kun)






