Surabaya (beritajatim.com) – Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, memilih untuk tetap membumi dan tidak jemawa meskipun skuatnya baru saja memecahkan rekor poin tertinggi klub sejak kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kewaspadaan tinggi justru langsung digaungkan oleh juru taktik asal Portugal tersebut guna mengantisipasi peta persaingan kompetisi kasta tertinggi nasional yang diprediksi berjalan jauh lebih sengit dan kejam.
Pada musim lalu, tim berjuluk Bajol Ijo ini sukses mengemas total 58 poin di papan klasemen akhir. Catatan impresif tersebut resmi melampaui rekor terbaik internal mereka sebelumnya pada musim 2019 silam, di mana kala itu Persebaya mengumpulkan 56 poin dan harus puas mengakhiri kompetisi sebagai runner-up.
“Jadi, pertama-tama kita harus rendah hati. Ini akan menjadi musim yang berat karena semua tim melakukan peningkatan. Liga Indonesia dari tahun ke tahun menjadi semakin sulit,” ujar Bernardo Tavares di Surabaya, Senin (13/7/2026).
Tavares menilai lonjakan tingkat kesulitan kompetisi ini dipicu oleh perubahan regulasi kuota legiun asing yang terus bertambah secara masif. Ia mengenang saat pertama kali menukari klub di Indonesia pada tahun 2022 lalu, setiap tim hanya diizinkan memakai jasa 4 pemain asing, sebuah regulasi yang dinilainya jauh lebih ramah terhadap menit bermain talenta lokal.
Kini, kompetisi bersiap menerapkan wacana regulasi baru yang membolehkan setiap klub mendaftarkan total 8 pemain asing, dengan ketentuan 7 pemain tampil di lapangan dan 2 berada di bangku cadangan. Kondisi tersebut kian rumit bagi pemain lokal seiring tren klub-klub kontitor yang getol menumpuk pilar naturalisasi demi ambisi merengkuh trofi juara.
Menyikapi regulasi ketat tersebut, manajemen dan tim kepelatihan Persebaya menegaskan tidak akan menganakemaskan status pemain berdasarkan asal negaranya. Prinsip meritokrasi atau keadilan performa berdasarkan kualitas di sesi latihan akan diterapkan secara mutlak tanpa pandang bulu di dalam skuat.
“Bagi saya, di dalam skuad saya, kami memiliki pemain asing dan lokal. Siapa yang lebih baik, dialah yang bermain. Jika saya merasa pemain lokal lebih baik, maka pemain lokallah yang akan bermain. Mungkin kita hanya akan bermain dengan 5 atau 6 pemain asing,” tegas Tavares secara lugas.
Kebijakan tegas ini diambil sebagai evaluasi total atas kendala kedalaman skuat Persebaya pada musim lalu. Keterbatasan pilihan pemain di bangku cadangan sempat memaksa tim pelatih memutar otak hingga menempatkan beberapa nama tampil di luar posisi aslinya (out of position) demi menambal lubang taktis akibat badai cedera dan akumulasi kartu.
Melalui komposisi pemain yang diklaim jauh lebih kompetitif musim ini, Tavares ingin membangun atmosfer persaingan internal yang sehat di setiap sektor. Ketebalan skuat yang merata diharapkan mampu menjaga konsistensi performa Green Force dari pertandingan ke pertandingan tanpa harus mengorbankan kenyamanan posisi natural pemain di lapangan.
“Penting bagi kami di musim ini untuk bisa menciptakan persaingan yang lebih ketat di dalam skuad, agar para pemain kami bisa bermain di posisi yang mereka latih. Karena musim lalu, di banyak pertandingan, saya harus menempatkan beberapa pemain di posisi yang berbeda karena kami tidak memiliki persaingan tersebut,” pungkasnya. [way/ian]






